Home / Kalimantan Selatan (Kalsel) / Tanjung (Tabalong)

Jumat, 15 Maret 2013 - 03:36 WIB

Adaro Peduli Masyarakat Adat Dayak

Reporter : Koran Metro7 - Dibaca : 0 kali

Tanjung — Sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar operasional tambang, PT Adaro Indonesia memberikan bantuan pembangunan Balai Adat “Rungan Tatau” Dayak Deah Kampung Sepuluh Kecamatan Haruai-Upau yang berada di Desa Pangelak. 
Bantuan yang diberikan PT Adaro Indonesia senilai Rp 45 juta itu, membuat pembangunan Balai Adat Dayak Deah menjadi lancar dan selesai dalam kurun waktu 10 bulan saja sejak peletakan batu pertama yang dilakukan pada akhir Mei 2012 lalu oleh GMO PT Adaro Indonesia Priyadi.
Kamis (7/3) tadi sekitar pukul 10.00 wita, Bupati Tabalong H Rachman Ramsyi meresmikan pemanfaatan balai adat tersebut. Dalam sambutannya Rachman mengatakan sangat mendukung pembangunan balai adat tersebut, sebagai wujud upaya bersama untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya daerah.
“Dengan keberadaan balai adat ini, kita berharap akan banyak mendatangkan manfaat untuk kepentingan bersama dalam masyarakat adat Dayak Deah Kampung Sepuluh khususnya dan komunitas adat Dayak lainnya yang belum terhimpun dalam suatu wadah pada umumnya. Balai adat ini, dalam fungsi lebih luas lagi, juga kita harapkan dapat menjadi wadah bermufakat dalam kaitan turut membangun daerah Banua Sarabakawa,” ujar bupati.
Senada dengan Bupati, Deputy Manager PT Adaro Indonesia Lili Harianto yang menghadiri kegiatan tersebut juga berharap dengan dibangunnya balai adat tersebut, akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya bagi komunitas masyarakat adat Deah Kampung Sepuluh yang ada di Kecamatan Haruai dan Upau. “Dengan adanya balai adat ini, sudah barang tentu banyak kegiatan yang berkaitan dengan adat Dayak Deah dapat dilaksanakan di tempat ini,” ujar Lili dalam sambutannya.
Sementara itu, Plt Kepala Adat Dayak Deah Kampung Sepuluh Darius SPd secara singkat menjelaskan tentang Dayak Deah dan hukum adat. Dikatakannya, asal usul suku Dayak berasal dari daratan Asia yaitu propinsi Yunan, daerah selatan gurun Gobi di China Selatan yang pindah ke daratan Kalimantan sekitar abad ke 14 SM. Suku Dayak Deah sendiri berasal dari rumpun Ot Danum yaitu dari suku Dayak Lawangan, bersama 6 sub etnis suku Dayak Lawangan lainnya. Yaitu suku Dayak Benuaq, Dayak Bentian, Dayak Bawo, Dayak Tunjung, Dayak Paser, Dayak Tawoyan dan Dayak Deah itu sendiri.
Dijelaskan juga oleh Darius bahwa hukum adat merupakan suatu akumulasi norma-norma yang ada dalam masyarakat Dayak Deah dalam suatu kumpulan norma-norma. Karena dikatakan Darius, norma atau kaidah sosial saja masih lemah dan sering dilanggar sehingga perlu ada sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. Oleh sebab itulah, dari norma-norma yang berlaku meningkat statusnya menjadi norma hukum yaitu norma hukum adat, yang akhirnya disebut sebagai hukum adat. 
Dalam kegiatan yang juga di hadiri oleh jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Tabalong dan masyarakat Dayak Deah itu dilakukan ritual adat pemasangan blontakng (patung khas dayak, red) dan pemotongan hewan kurban kerbau di tiang patung blontakng yang dipimpin oleh seorang mulukng (perantara dengan alam roh dalam ritual Dayak Deah).
Kegiatan dirangkai dengan melakukan ngetis tali blontakng oleh Bupati Tabalong. Kemudian penandatanganan prasasti yang dilakukan oleh  Bupati, Deputy Manager PT Adaro Indonesia Lili Harianto didampingi Manager External dan Media Relation PT Adaro Indonesia Dewanto, serta Kepala Adat Dayak Deah Darius.
Tak hanya PT Adaro Indonesia yang peduli, bantuan senilai Rp 10 juta juga di berikan oleh Pemerintah Kabupaten Tabalong, PT Conch South Kalimantan Cement juga memberikan bantuan senilai Rp 10 juta, kemudian PT Astra Agro Lestari senilai Rp 3,5 juta, dan pihak lain senilai Rp 5 juta. Sehingga pembangunan balai adat itu memakan dana total Rp 73,5 juta.  (Metro7/ka)

Share :