oleh

Allah Turunkan Sejuta Malaikat Singgah Dihati Warga Kalimantan untuk Terus Melayani Juta’an Umat Menuju Sekumpul

-Opini-7.146 views

Penulis: Reza Yayank Jurnalis Metro7

Perjalanan saya dari Kalimantan Timur sampai Martapura hanya menghitung jumlah warung gratis rest area dan bercengkrama dengan warga yang membuka posko haul Abah Guru Sekumpul.

Dimulai dari Penajam Paser Utara sampai Martapura tidak kurang dari 108 rest area persinggahan yang lengkap dengan makanan minunn dan tempat tidur sementara disiapkan untuk juta’an umat.

Juta’an manusia takkan kelaparan, juta’an umat takan alami kehausan dan anehnya warga yang singgah tidak diberi batasan mau makan apa saja sepuas dan sebanyak – banyaknya karna logistik tak pernah habis akibat sumbangan dari warga yang terus berdatangan.

Di rest area Barabai saya bertemu dengan warga asal Makasar Sulawesi, saya bertanya bapak darimana beliau jawab Makasar, saya tanya lagi kenapa lewat darat pak padahal ada penerbangan langsung ke Banjarmasin dan tentu biayanya akan lebih murah ketimbang bapak lewat darat, beliau jawab saya baru pertama kali ke Martapura dan sengaja lewat darat untuk membuktikan kuasa tuhan yang saya tidak percaya sebelumnya, dimana teman saya bercerita kalau sepanjang jalan di Bumi Kalimantan yang saya lintasi menuju Martapura, uang untuk membeli nasi tidak berlaku dan ternyata itu benar, disini semua rest area gratis dan saya sempat menangis ketika membuktikan sendiri betapa kami di hargai lebih dari seorang raja. Allah benar benar buktikan di dunia ini masih banyak orang – orang baik dan semua ada disini.

Tahukah anda warga – warga yang ikhlas menyediakan makan bukan anak – anak pesantren atau jemaah pengajian, mereka adalah warga biasa yang hanya berharap pahala dan ingin membantu sesama menjalani perjalanan jauh menuju haul Abah Guru Sekumpul.

Tahukah kita ternyata banyak dari mereka bukan orang yang sangat paham agama. Namun, rasa memiliki dan kecintaan pada Agama Islam dan ketokohan Abah Guru Sekumpul membuat mereka senang riang dan bahagia bisa turut ambil bagian di rest area posko haul, dan sadarkah kita hanya di Bumi Kalimantan manusia – manusia berhati malaikat ini ada, dan tahukah kita ini sesuatu yang tak ada di belahan dunia manapun.

“Singgah paman bawa makan dulu, bawa istirahat, sini ulun bantu nyebrang. Makan acil jangan ba’arit kalu haus di jalan bungkus minuman makanan paman acil,” itu kalimat yang murni tulus iklas keluar dari mulut warga di posko haul, dimana makin banyak anda makan, makaa mereka makin bahagia.

Anda bayangkan juta’an umat yang hadir ke Martapura dan dari juta’an tersebut tak satupun pernah bercerita kelaparan di jalan. Di kawasan Bebulu Darat Penajam terpantau panitia sampai bingung memasak karna warga yang mengirim logistik sangat banyak, bayangkan puluhan kilo ayam dan ratusan kilo ikan dari nelayan dikirim ke posko demi berbagi dan berharap Ridho Allah dari berkah mahabbah kepada sang Aulia Abah Guru Sekumpul.

Di Tabalong sampai ada satu posko yang suka rela membeli satu ekor sapi demi mencukupi kebutuhan makan jama’ah dan melayani full 1×24 jam.

Di Kandangan Tentara Republik Indonesia (TNI) turun ke jalan mengajak anak dan istri membagikan makanan, termasuk juga posko Anggota Polri yang setiap jam akan berpatroli mengurai kemacetan, dan pastinya semua diluar intruksi negara, semua dilakukan dari hati penuh ikhlas dalam kebersamaan menyambut Haul Abah Guru Sekumpul.

Di Binuang juga didirikan tenda – tenda raksasa khusus untuk warga rehat makan minum dengan berbagai jamuan makan tak terbatas dan tak pernah habis, termasuk tambal ban gratis.

Di rest area Binuang saya bertemu Paman Umur sekitar 55 tahun beserta istrinya, “paman pian dari mana paman” tanya saya. “Amuntai” jawab sidin. “Banyaknya mambawa rambutan ba karung – karung kamana pian manjual,”, di jawab beliau “sagan di bawa ka haul nak ae kd di jual kalo ada nang handak mamakan disana kain, “. Masya Allah perjalanan ratusan kilo, beliau ikhlas membawa sekarung rambutan padahal usia beliau sudah tua, semua terasa tanpa beban kalau dibalut ikhlas.

Ketika melintas di Astambul sekitar pukul 1.30 dini hari, udara sangat dingin dan ada rintik – rintik hujan, dan pada sebuah tikungan tajam, Subahannallah ada seorang kakek duduk memakai jas hujan dengan lampu penerangan seadanya sambil mengatur dengan lampu lalulintas, saya mampir dan bertanya, “Kai pian saurangan ajakah,”. Dan di jawab beliau, “aku nak ae sengaja bajaga disini karna tikungannya tajam kalo kada di jaga banyak nang kecelakaan disini apalagi orang jauh,” ujar beliau sambil menyeka air rintik hujan di muka tua nya. Subhannallah beliau duduk membawa kursi dari rumah karna lelah berdiri.

Ini semua adalah wujud kesyukuran kebanggaan dan ketundukn pada Allh SWT. Tuhan maha besar, Ya Allah Tuhan ku yang baik, terimakasih atas segala keindahan ini, terimakasih atas segala “mukjizat” ini, karna hanya di Bumi Kalimantan kau hadirkan manusia – manusia yang hatinya bak malaikat mu. (Reza Yayank)