BANJARMASIN, metro7.co.id – Kuasa hukum PT Antang Gunung Meratus (AGM) Harry Ponto mengungkapkan penyebab konflik jalur logistik batu bara di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan disebabkan kondisi PT Tapin Coal Terminal (TCT) yang mulai memburuk.

Adanya laporan pidana, kata Harry di jalur logistik KM 101 Tapin diduga menjadi salah satu cara PT TCT untuk menyelamatkan bisnisnya. Namun, dampak pelaporan itu membuat jalur logistik di police line oleh Polda Kalsel. Akibat police line dan blokade TCT ini ribuan sopir hauling dan pekerja tongkang kehilangan pekerjaan.

Kementerian ESDM juga menghitung potensi penerimaan negara akibat penutupan jalur logistik batu bara di Tapin itu mencapai sekitar Rp 249 miliar. Harry Ponto juga menyayangkan bahwa masyarakat yang menjadi korban. 

Terlebih risiko terbesar dari penutupan jalur logistik ini adalah tersendatnya pasokan batu bara ke PLN dan pabrik semen, serta potensi kebangkrutan pengusaha truk dan tongkang di Tapin.

“Dari pernyataan pihak TCT, apa yang terjadi hari ini karena bisnis mereka sedang sulit. Sayangnya, ribuan orang dan banyak keluarga yang menjadi korban,” tegas Harry dalam siaran pers yang diterima, Jumat (14/1/2021).