BANJARMASIN, metro7.co.id – Pengelola jasa angkutan penyeberangan (feri) di Sungai Alalak mulai merasakan penurunan omzet sejak Jembatan Sei Alalak beroperasi.

 

Feri rute Banjarmasin-Barito Kuala dan sebaliknya itu sebelumnya sempat menjadi alternatif warga untuk menyeberangi Sungai Alalak. 

 

Dengan tarif Rp 1.000 per kepala dan Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua, warga bisa terhindar dari kemacetan akibat pembangunan Jembatan Alalak. Bahkan ketimbang macet, penumpang lebih memilih antre untuk mempersingkat rute perjalanan, terutama pengguna roda dua. 

 

Burhan, salah satu pengelola feri di Sungai Alalak mengungkapkan, pendapatan mereka bisa mencapai Rp 2 juta per hari saat Jembatan Alalak masih dibangun. 

 

Seiring banyaknya permintaan warga untuk menyeberang, jumlah feri juga bertambah. Omzet Burhan turun hingga Rp 800 ribu per hari.

 

Jembatan Alalak jadi dan mulai dibuka hingga diresmikan beberapa waktu lalu, Burhan mengakui omzetnya kian turun hingga 75 persen.

 

“Sekarang ini untuk mendapatkan Rp 200 ribu sehari saja sudah sangat sulit. Sangat sepi setelah Jembatan Alalak jadi,” ungkap Burhan, Ahad (24/10/2021). 

 

Meski begitu, Burhan dan beberapa temannya memilih tetap melakoni usaha feri. Menurut mereka, masih ada pelanggan yang setia. 

 

“Kalo tidak beroperasi rugi juga,” Imbuh rekan Burhan yang bernama Wawan. 

 

Sementara itu, Muzahidin, warga Alalak Berangas Batola mengaku masih setia dengan feri Sungai Alalak. Menurutnya, feri dipilih karena mempersingkat jarak tempuh dan menghindari kemacetan.

 

“Lebih dekat lewat feri ketimbang lewat jembatan, karena rumah saya berada di tengah, kalau lewat jembatan memutar lebih jauh,” katanya.[]