BANJARMASIN, metro7.co.id – Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif, PDRB Kalsel sampai dengan Triwulan IV tahun 2021 tumbuh sebesar 3,48 persen (ctc).

Plt Kepala Perwakilan BI Kalsel Imam Subarkah, dalam kegiatan Bincang Media di Sante Cafe, Banjarmasin, Selasa (22/2) mengatakan, dari sisi penawaran, sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi berasal dari Lapangan Usaha (LU) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 10,89 persen.

“Dari sisi permintaan pertumbuhan tertinggi bersumber dari Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mencapai 19,02 persen,” ujarnya.

Secara tahunan, tuturnya, PDRB Kalsel pada Triwulan IV tahun 2021 tumbuh sebesar 5,55 persen (yoy), lebih tinggi dari Q3’21 yang sebesar 4,88 persen (yoy).

“Pertumbuhan ini lebih tinggi dari regional Kalimantan (4,31 persen) dan menempati posisi ketiga di regional Kalimantan, setelah Kalteng (7,61 persen) dan Kaltara (7,08 persen),” bebernya.

Dari sisi penawaran, hal ini terutama didorong oleh perbaikan kinerja LU Industri Pengolahan, LU listrik, gas, LU Akomodasi dan makan minum.

Sisi permintaan, ditopang oleh perbaikan kinerja Konsumsi Pemerintah, Konsumsi RT, dan PMTB di tengah ekspor yang masih kuat meski melambat.

Disampaikan juga Beberapa catatan aktivitas ekonomi Kalsel Triwulan IV tahun 2021, Nilai ekspor komoditas unggulan batu bara mengalami peningkatan baik secara triwulanan maupun tahunan.

Siklus musiman tanaman pangan di Kalsel telah melewati musim panen di triwulan sebelumnya, sehingga pada triwulan IV memasuki zona kontraksi.

Realisasi pengadaan semen dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mengalami peningkatan sebesar 3,39 persen secara y-on-y.

Penumpang angkutan udara yang berangkat mengalami peningkatan 8,80 persen secara y-on-y.

Neraca perdagangan luar negeri Kalsel Tahun 2021 mengalami surplus dan meningkat 55 persen dibandingkan tahun 2020. Nilai ekspor mengalami kenaikan sebesar 53,64 persen, sedangkan nilai impor menurun 20,65 persen dibandingkan tahun 2020.

Realisasi Belanja Pemerintah tahun 2021, baik APBD maupun APBN, mengalami kenaikan untuk jenis belanja barang, pegawai dan modal.

Outlook Pertumbuhan ekonomi 2022 :
Perekonomian Kalsel tahun 2022 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4-5 persen (ctc), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2021.

Dari sisi penawaran : pertumbuhan didorong oleh LU Industri Pengolahan, LU Pertambangan dan LU Konstruksi.

Peningkatan LU Industri Pengolahan sejalan dengan peningkatan pasokan TBS yang diproyeksikan lebih tinggi dari produksi 2021 dan operasionalisasi penuh pabrik B30 di Kabupaten Tanah Bumbu, serta smelter bahan baku baterai di Kotabaru.

LU Pertambangan diperkirakan meningkat sejalan dengan peningkatan kuota produksi batubara nasional dari sekitar 625 Juta ton pada 2021 menjadi 663 juta ton pada 2022.

“LU Konstruksi diperkirakan meningkat sejalan dengan proyek pembangunan dan pengembangan jalan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, seperti di sekitar kawasan industri. LU PHR diperkirakan meningkat sejalan dengan penurunan kasus Covid-19 yang mendorong pembukaan lokasi wisata dan penyelenggaraan hari besar keagamaan yang lebih masif dibandingkan tahun 2021,” tuturnya.

Dari sisi permintaan, peningkatan ekonomi didorong peningkatan kinerja seluruh sektor.

Konsumsi RT meningkat sejalan perbaikan kondisi ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat didukung penyaluran bansos, peningkatan UMP, dan proyek investasi yang menyerap tenaga lokal.

Investasi diperkirakan meningkat sejalan implementasi OSS RBA (Online Single Submission – Risk Based Approach) dan rencana pembangunan smelter nikel dan KEK di wilayah Tanah Bumbu.

Sementara itu, ekspor diperkirakan meningkat sejalan permintaan komoditas unggulan Kalimantan Selatan, yaitu batubara dan CPO dari negara mitra dagang maupun dari domestik.

Inflasi

Pada bulan Januari 2022, Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 0,98% mtm, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang inflasi sebesar 0,76% (mtm). Inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau akibat kenaikan harga rokok kretek filter sejalan dengan peningkatan Cukai Harga Tembakau rata-rata sebesar 12% serta kenaikan harga telur dan daging ayam ras akibat peningkatan harga pakan.

Selain itu, inflasi juga didorong peningkatan harga ikan bakar sejalan dengan fluktuasi harga bahan makanan. Angkutan udara juga menjadi pendorong utama inflasi akibat permintaan yang masih tinggi selama bulan Januari seiring momen tahun baru dan menjelang imlek.

“Secara tahunan, inflasi Kalimantan Selatan pada periode laporan tercatat sebesar 3,73% (yoy), meningkat dari 2,55% (yoy) di bulan Desember 2021. Peningkatan inflasi tahunan terutama bersumber dari peningkatan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau didorong oleh peningkatan harga minyak goreng sejalan dengan kenaikan harga CPO. Selain itu, pendorong inflasi lainnya adalah kelompok transportasi sejalan dengan peningkatan permintaan angkutan udara, dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sejalan dengan peningkatan harga LPG non subsidi,” ujarnya.

IHK bulan Februari 2022 diprakirakan lebih rendah dari bulan Januari 2022. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain aneka cabai sudah mulai panen pada bulan Januari 2022 dan sudah mulai terjadi penurunan harga di pusat produksi dan diprakirakan akan terjadi di Kalimantan Selatan pada bulan berikutnya.

Panen raya cabai diprakirakan akan terjadi pada Februari 2022 meskipun beberapa wilayah sempat mengalami gagal panen akibat gangguan cuaca. Selain itu, permintaan angkutan udara diprakirakan menurun sejalan dengan peningkatan kasus positif Covid-19 varian Omicron.

“Secara keseluruhan, inflasi Kalimantan Selatan tahun 2022 diprakirakan masih berada di kisaran target inflasi nasional yaitu 3,0±1% persen,” ungkapnya.

Pertumbuhan Merchant QRIS, RTGS, SKNBI, ATM, Kartu Kredit dan E-Commerce di Kalimantan Selatan hingga 31 Januari 2022, kontribusi Wilayah Kalimantan terhadap jumlah merchant QRIS secara nasional sebesar 4,7 persen atau sebesar 714.170 merchant dari total secara nasional sebanyak 15.195.453 merchant Penyebaran merchant QRIS di Kalimantan, sebagai berikut :

a. Kalimantan Timur, 243.025 merchant,
b. Kalimantan Selatan 177.572 merchant,
c. Kalimantan Barat, 162.369 merchant
d. Kalimantan Tengah, 102.227 merchant dan
e. Kalimantan Utara 28.977 merchant.

Sumbangan Kalsel terhadap jumlah merchant QRIS di Kalimantan sebesar 24,8 persen.

Posisi 31 Januari 2022, Jumlah merchant QRIS di Kalsel sebesar 177.572 tersebut meningkat sebesar sebesar 2,3 persen dibandingkan posisi Desember 2021 yang tercatat sebesar 173.624 merchant dan di dominasi oleh kategori usaha mikro.

Hal tersebut Sejalan dengan peningkatan akseptasi masyarakat akan penggunaan transaksi berbasis digital di Kalimantan Selatan.

Transaksi Real-Time Gross Settlement (RTGS) di Kalsel pada Desember 2021 secara volume meningkat sebesar 11,82 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selanjutnya transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada Desember 2021, baik secara nominal maupun volume, terpantau meningkat, masing-masing sebesar 20,47 persen dan 16,96 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Transaksi ATM Debet di Kalsel pada Desember 2021 baik secara nominal maupun volume mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, masing-masing meningkat sebesar 10,11 persen dan 8,42 persen.

Selanjutnya, nominal transaksi kartu kredit pada Desember 2021 juga mengalami peningkatan sebesar 9,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Adapun dari data nominal dan volume transaksi e-commerce di Kalsel pada Desember 2021 mengalami peningkatan sebesar 7,21 persen dan 11.39 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” katanya.

Hal ini didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi dan menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru 2022.

Cinta, Bangga dan Paham Rupiah.

Sejak tahun 2021, Bank Indonesia telah mengkampanyekan program Cinta, Bangga dan Paham Rupiah. Kampanye tersebut, bertujuan untuk meningkatkan kualitas uang yang beredar di masyarakat, menjaga masyarakat agar terhindar dari kasus uang palsu, menerapkan uang Rupiah menjadi satu-satunya alat pembayaran di NKRI serta menumbuhkan kecintaan kebanggaan dan pemahaman akan Rupiah.

Saat ini, sebagian masyarakat masih memandang Rupiah hanya sebagai instrumen transaksi saja, belum menciptakan rasa Cinta yang besar serta diimbangi dengan perilaku menjaga, bangga dan memahami Rupiah secara utuh.
Cinta Rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat untuk mengenal karakteristik & desain Rupiah, memperlakukan Rupiah secara tepat, menjaga dirinya dari kejahatan uang palsu. Masyarakat diharapkan memiliki kecintaan untuk mengenali filosofi Rupiah, merawat dan menjaga Rupiah.

Bangga Rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat memahami Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan NKRI dan alat pemersatu bangsa. Masyarakat diharapkan bangga terhadap Rupiah dengan menjaga kedaulatannya sebagai simbol negara berdaulat, menggunakan dalam setiap transaksi dan memaknai sebagai alat pemersatu bangsa.

“Paham Rupiah merupakan perwujudan kemampuan masyarakat memahami peran Rupiah dalam peredaran uang, stabilitas ekonomi dan fungsinya sebagai alat penyimpan nilai. Masyarakat diharapkan paham berperilaku sesuai dengan fungsi Rupiah dalam rangka melakukan transaksi pembayaran, membelanjakan Rupiah dan mengoptimalkan nilai (berhemat) Rupiah,” pungkasnya.

Turut berhadir, Kepala Divisi Implementasi SP PUR dan MI, Robi Ariadi dan Ekonom Ahli Koordinator Kelompok Perumusan KEKDA Wilayah dan Provinsi, Muslimin Anwar.