Desa Membangun Negeri
Selasa, 15 Sep 2020 03:26 WIB

Dari Argumen Hukum ke Argumentum Ad Hominem

Reporter :  Koran Metro7

Oleh : Sil Joni *)

Polemik seputar ‘tafsiran hukum’ atas bunyi pasal dalam undang-undang pilkada yang dioperasionalkan dalam peraturan KPU tentang frase perbuatan tercela cukup heboh saat ini. Publik disuguhi elaborasi dan kajian hukum dari para ‘pencinta hukum’ yang diartikulasikan secara kreatif dalam ruang publik. Perang argumentasi dan penalaran pun tak terhindarkan lagi.

Namun, sayangnya polemik itu cenderung menjurus ke perdebatan brutal yang semakin jauh dari substansi persoalan. Argumentasi yang menukik ke pokok soal (obyek diskursus), termarginalisasi secara tragis. Justru narasi dan argumentasi yang bersifat menyerang ‘pribadi lawan debat’ (argumentum ad hominem) memenuhi ruang publik saat ini. Ad hominem adalah sebuah frase bahasa Latin yang berarti “tertuju pada pribadi atau karakter seseorang”. Itu berarti, argumentum ad hominem, adalah upaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut. Penalaran ad hominem biasanya dipandang sebagai kesesatan logika.

Para debater tampak inkonsisten dalam mempertahankan penalaran hukumnya. Pokok soal (tafsiran aplikatif dan implikatif bunyi pasal undang-undang dan peraturan KPU) ditinggalkan. Energi diskursus mereka terarah pada penggeledahan motif subyektif di balik narasi yang disebarkan dalam media sosial.

Halaman: 1 2 3 4