Desa Membangun Negeri
Minggu, 20 Sep 2020 14:21 WIB

Dari Facebook ke Real-Book (Sebuah Catatan Apresiatif)

Reporter :  Koran Metro7
Editor :  M Ali Nafiah Noor

Oleh : Sil Joni *)

MENULIS di kanal virtual itu memang sudah menjadi trend di era teknologi digital seperti sekarang ini. Kita dengan bebas menuangkan gagasan dalam pelbagai platform media sosial. Bahkan, tidak sedikit media publikasi di tanah air yang membuat terobosan inovatif dan transformatif dalam bidang digitalisasi media. Media dalam jaringan (daring) dan buku virtual (e-book) begitu menjamur saat ini.

Jika ruang virtual menjadi instrumen ideal pengaktualisasian potensi literasi, masih relevan dan urgenkah kita berbicara tentang eksistensi ‘buku kertas’? Apa nilai plus dari menulis dan membaca buku kertas jika dibandingkan dengan menulis dan membaca buku virtual? Bukankah membaca buku kertas dilihat sebagai aktivitas pemborosan waktu semata sebab semuanya telah tersedia di ruang virtual?

Untuk konteks Manggarai Barat, media sosial dalam pelbagai aplikasinya masih menjadi wahana pengembangan tradisi berliterasi. Kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk terlibat dalam ‘pertengkaran sengit’ di facebook atau grup WhatApps (WAG). Aktivitas literasi kita masih sebatas membaca dan menulis di kanal facebook dan WAG.

Halaman: 1 2 3 4

CLOSE