oleh

Hantakan Miliki 27 Balai Adat

BARABAI — Kecamatan Hantakan merupakan salah satu dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Di kecamatan yang terletak di kaki Pegunungan Meratus ini, terdapat setidaknya 27 Balai Adat yang ditempati suku Dayak Meratus.

Jumlah tersebut terbilang paling besar dibanding kecamatan lain yang ada di wilayah itu. Meski sebagian letaknya sangat terpencil di tengah hutan, namun bagi komunitas suku Dayak, hal itu tidak menghalangi mereka untuk beraktifitas. Bahkan, mereka masih sering turun naik gunung untuk melengkapi keperluan hidup.
Tidak demikian halnya bagi para petugas kesehatan, pengajar, dan aparatur pemerintah yang bertugas di daerah itu. Medan yang sulit dengan kondisi jalan yang masih seadanya, sering menyulitkan kinerja mereka.
“Balai-balai yang ada di Kecamatan Hantakan menyebar dan berjauhan. Akses untuk mencapainya susah, sehingga sering menghambat untuk melaksanakan kegiatan,” ungkap Ideham, Kepala Puskesmas Hantakan.
Dikatakannya, untuk Desa Kundan Kecamatan Hantakan saja, sedikitnya ada 11 Balai yang tersebar di anak-anak desa yang lokasinya berada di pelosok-pelosok hutan. Di antaranya, ada yang bernama Balai Bangkaon, Biang (Balai Lokasi), Impun, Tamburasak, Mancatur, Kumuh 1 dan Kumuh 2, Pantai Binuang dan lain-lain.
“Rata-rata Balai tersebut lokasinya sangat sulit diakses, apalagi jika musim penghujan,” katanya.
Menurut Ideham, satu Balai biasanya dihuni oleh 7 hingga 9 Umbun (Kepala Keluarga, red). Itu, sudah termasuk rumah-rumah kecil yang ada di sekitar Balai.
Untuk turun naik gunung dengan medan yang sulit, sangat membutuhkan energi yang prima. Dari Balai untuk turun gunung harus dilakukan dengan berjalan kaki. Warga setempat yang punya sepeda motor, biasanya menitipkannya di rumah kerabat mereka yang berada di bawah pegunungan.
Di sisi lain, sulitnya medan ikut berimbas pada tingkat pendidikan warga setempat. Menurut Ir Muhammad David yang merupakan salah satu Pengajar Keaksaraan Fungsional dari Lembaga Bina Potensia, kondisi tersebut membuat lembaganya prihatin. Maka itu, ujarnya, dengan sedikit kepedulian, pihaknya sejak dulu sudah sering turun naik gunung untuk membantu warga setempat.
“Kita bersyukur sudah ada beberapa anak dan orang tua yang bisa membaca dan melek angka. Meski kadang hanya 2 kali dalam satu minggu untuk kegiatan belajar mengajar, namun kami senang sudah bisa membantu warga. Mereka juga sangat ramah dan senang  menerima kehadiran kami,” ujarnya. advhst