Desa Membangun Negeri

Home / Cerpen

Jumat, 24 Mei 2019 - 00:30 WIB

Jablai, Kebahagiaan Terakhir

Reporter : Koran Metro7 - Dibaca : 11 kali

Oleh: Kandalana

Aku bingung. Sungguh aku tak bisa memberikan sebuah jawaban dari harapan seorang Mirna. Mirna, gadis muda yang biasa aku kunjungi hampir tiap malam di warung jablai itu, meminta untuk menjadi suami sah baginya. Aku bergeming dalam kehampaan. Aku tak bisa memberikan kepastian padanya, selain senyum kecut dan belaian mesra di helaian rambutnya yang tergerai hitam memanjang itu.

Mirna tak pernah memaksa aku memenuhi harapannya. Aku tahu ia gadis baik. Ia selalu katakan, cinta bisa singgah di setiap jiwa, maka setiap jiwa itu berhak memupuknya bahkan mencabutnya dari jambangan. Selama ini ia tak pernah meminta sesuatu apa pun dariku. Satu harapannya, aku menikahi nya bila memang aku mencintainya. Tapi ia tak pernah tahu, cintakah aku padanya?

Tidak seorang pun tahu kejujuran dalam hatiku, apakah aku mencinta Mirna atau tidak. Bahkan aku sendiri tidak tahu seperti apa perasaanku terhadap Mirna. Yang aku tahu, sejak perkenalan 6 bulan lalu, Mirna amat suka mendengar cerita bualanku. Di warung jablai, sebagaimana orang menyebutnya, di situlah tawa sering memecah kebuntuan malam. Kala itu aku tak tertawa sendiri, Mirna sering tertawa manja, sering pula mendaratkan cubitan di bahuku. Anehnya, cubitan itulah yang membuatku harus datang esok dan lusa malam untuk Mirna

Aku merasa tak pernah “mengakadkan” cinta kepada Mirna. Namun kuakui, tidak sedikit kenangan telah terlukis Indah. Kenangan itu yang membuatnya sering merasa bahagia. Bagi Mirna, Aku bukanlah orang lain, tapi lebih dari special. Bagi Mirna, ibarat dirinya bahtera, akulah dermaga baginya.

Merasa sangat dekat dengan diriku, suatu malam tak tahan, Mirna tutupi rahasia hatinya. Benih cinta tampak tumbuh begitu subur di hati gadis perantauan ini.

“Kanda, menurutmu seberapa penting aku bagimu?. Aku bukanlah orang penting bagi siapa pun, mungkin juga bagimu, tetapi salahkah bila aku menyukai, lalu mencintai seseorang?”

Ia mencintai ku. Kalau saja sampai terucap tentang harapan, agar aku menikahinya, orang pun akan maklum. Pasalnya selama ini aku telah membiarkan harapan di hatinya tumbuh dalam penerimaanku, tak ubahnya kuntum bunga yang mengharap embun sekaligus kumbang.

Namun aku selalu mengelak memberikan jawaban cinta Mirna. Aku selalu berdalih, cinta tak perlu diucapkan. Cinta ujarku, adalah kenyataan perbuatan untuk membuat seseorang untuk lebih baik. Sikap nyata dalam setiap kesempatan adalah wujud cinta yang sesungguhnya. Bila sikapku membuatmu nyaman itulah penampakkan rasa dalam hati. Tak perlu ada ungkapan cinta, bila hanya untuk disia-siakan. Aku juga tak pernah mengatakan, aku tak mencintainya.

Tak satupun argumentasiku itu mampu dijawab Mirna. Mirna tak pula mampu mendesakku. Ia dengan jujur mengakui, tak bakal menang berdebat soal begituan denganku. Itulah yang membuatnya selalu menaggumiku. Aku tidak seperti lelaki lain yang mengobral kata cinta di setiap warung jablai. Kemampuanku mengemukakan alas an membuatku nyaman memposisikan perasaan sendiri.

Mirna tak pernah tahu aku sudah beranak isteri. Ia tak pernah bertanya, jadi untuk apa aku menjelaskan. Salahkah diriku? Itu memang lebih baik bagiku, karena aku tak perlu mengarang-ngarang statusku yang sebenarnya di hadapan wanita mana pun. Membicarakan status adalah paling tidak mengenakan, terlebih di tempat-tempat di mana kita sedang mencari perhatian para wanita.

Pernah, Mirna terbaring sakit beberapa hari. Katanya terserang malaria, namun teman-temannya mengatakan, malarindu. Penyakit jenis ini aku tidak tahu. Penyakit apaan? Ketika sakit itu, yang ia sebut bukanlah nama Tuhan, melainkan namaku. Namaku rupanya lebih diinginkannya hadir ketimbang Tuhan. Maklum, sudah seminggu lebih aku tak datang padanya. Biasanya, paling lama hanya satu malam batang hidungku tak tampak di warung jablai. Umumnya hampir tiap malam aku hadir di sana, menemui Mirna. Bila aku datang, dengan hangat disambutnya. Minuman pun tinggal sebut, pastilah ia sendiri yang menyeduhkan bila itu harus diseduh. Atau dia sendiri yang melepaskan tutup kaleng, bila yang kuinginkan adalah minuman instan. Setiap kehadiranku, perhatiannya seratus persen untukku. Kendati terdapat pula pria bermobil feroza, fanther dan avanza di warung yang ia jaga, tak serta merta memecah ketertarikannya pada bualanku. Aku tak tahu mengapa menjadi sangat istimewa baginya.

Ajaib, Mirna seakan sembuh dari sakitnya. Bukan tanpa sebab, hal itu karena temannya telah mengabarkan tentang kehadiranku di warung tempat biasanya kami berbagi kisah dan berkeluh kesah yang dibuat-buat. Kulihat Mirna dengan dandanan sekenanya mendekat ke arahku. Tatapannya penuh harap dan rindu mendalam, seakan – akan dilumatnya diriku seluruhnya. Tak lama tatapan itu, ia pun menghambur memeluk erat, seakan tak ingin dilepas selamanya. Titiklah air matanya membasahi bahu kiri dan kanan ku.

Entah berapa lama hal itu berlangsung, aku membiarkan Mirna menangis di dadaku tanpa ekspresi apapun tersirat di wajahku. Aku juga tak tahu kenapa ia harus menangis. Tatapan mataku kosong ke depan, senada dengan kedua tanganku yang tidak pula memeluk balas dekapan Mirna yang haus kasih. Biasanya tanganku tak pernah diam. Tanganku paling lincah membelai helaian rambut Mirna yang hitam. Biasanya pula pastilah aku berucap penuh rayu, ciri khas diriku yang menyebabkannya jatuh hati.

Kali ini aku tak seperti biasa. Para pria perayu dengan tongkrongan mobil strada yang ada di tempat itu, tampak memandang aneh pada diriku. Pakaian ku tak lagi bersih dan wangi sebagaimana biasanya. Rambut yang biasa bersisir rapi, kina jelas tampak awut-awutan. Wajahku tanpa ekspresi. Tidak ada cerita dan bualan apapun yang aku ucapkan sebagaimana aku merayu dan menciptakan senyum di bibir Mirna.

Aku memang tampak aneh sekali. Bahkan, Mirna yang baru melepas pelukan kerinduannya yang berkarat di bahuku, mencoba mencari tahu sebabnya. Berulang kali pertanyaan ia ajukan, tak pernah kujawab. Ia juga menuduhkan telah berlaku jahat karena seminggu lebih tak mengunjunginya, tidak jua aku hiraukan. Ia goncang diriku hingga aku terjatuh dari bangku kecil, tak jua ada ucapan di bibirku. Aku tidak hanya berubah, namun juga sangat aneh dan tidak lazim sebagai manusia yang waras.

Orang-orang melihatku begitu kosong, terkadang tersenyum sendiri. Sesekali aku meracau menyebut kata, isteriku…,anakku. Jelas bukan Mirna yang dimaksud, karena Mirna tak pernah kuperisteri, apalagi beroleh anak dariku. Bahkan ketika Mirna memintaku untuk menikahinya, sekedar menjawab cintanya saja, aku tak pernah memberikan jawaban yang ia harapkan. Sumpah! Mirna belum pernah kunikahi, walau secara sirri sekali pun. Kau percaya aku kan?

“Ia itu gila! Kebiasaan pulang pagi membuat Isteri dan anaknya meninggalkannya. Tak seorang pun tahu dimana mereka saat ini. Orang tua dan sang mertua menyalahkannya,” ujar seorang tetanggaku yang malam itu ada di warung Mirna.

Aku diam saja. Aku justeru merasa sedang berbincang akrab dengan anakku. Bahkan aku memeluk pula isteriku dengan air mata. Hanya, isteri yang kupeluk tak jua memberikan respon apa pun. Aku menetapnya lekat-lekat dan kuraba-raba tubuhnya yang tampak kurus. Aku menumpahkan penyesalanku. Kulihat iapun menangis pilu hingga setitik air jatuh persis di keningku “Oh… ternyata kau pisang! Batang pisang sialan!” he he he..

Aku pergi menjauh dari warung jablai seraya terkekeh. Bagaimana mungkin tetesan air dari daun pisang itu kuanggap air mata pilu isteriku. Bagaimana mungkin pula batang pisang yang kudekap itu memberikan harapan atas penyesalanku. Tapi aku tidak gila, aku hanya didera sesal sehingga tidak mampu menempatkan realitas dalam kenyataan yang sebenarnya. Akupun sering disebut orang tak waras.

Kenyataan ini membuat Mirna, penjaga warung jablai menangis. Entah, tangisannya karena melihat derita ku atau tangis penyesalan bertemu aku. Namun yang pasti, kepergian anak dan isteriku serta tangisan Mirna membuat aku sangat menderita. Ketidakwarasanku ini akhir kebahagiaanku selamanya***

Share :