oleh

Kans Pilkada Balangan

-Opini-2.683 views

Oleh: Kadarisman

(Pemerhati Sosial Politik Tinggal di Tabalong)

Balangan, satu dari tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan yang turut dalam pilkada serentak 2020. Balangan dalam pilkada nanti menyajikan dialektika yang sangat dinamis dan kompetitif. Pasalnya, peluang kemenangan pilkada Balangan terdistribusi ke luar lingkar kekuasaan petahana. Artinya jika selama ini pilkada menjadi domain dominasi petahana, maka di Balangan realitas itu mulai bergeser dan menjadi tidak berlaku.

Pertanyaanya adalah, kepada siapa peluang tersebut terdistribusi? Hal penting sebelum itu adalah memetakan siapa saja pihak kontestan yang turut dalam proses suksesi politik di Balangan.

Pertama, tentu saja sang petahana, Drs H Ansharuddin. Sebagai bupati existing, semua instrumen pendukung dalam pagelaran pilkada 2020 dimilikinya, baik infrastruktur politik dan suprastrukturnya.

Peluang petahana maju dalam pilkada Balangan hampir dapat dipastikan. Dia akan dapat melenggang begitu mudah maju sebagai calon pada periode 2020-2025. Sebagai Ketua Partai pemenang pileg 2019, dia memiliki tiket bebas hambatan untuk didaftarkan ke penyelenggara pemilu. Dengan perolehan kursi yang dimiliki Golkar di DPRD setempat, maka petahana tak butuh koalisi untuk mengusung dirinya. Namun pun demikian, Golkar sebagaimana kita tahu bukanlah single fighter. Dia tetap butuh koalisi untuk menguatkan kinerja mesin partai.

Kepercayaan diri Ansharudin dibuktikan dengan mencuatnya nama calon pendampingnya M Noor Iswan dari Partai PKS. Ansharuddin juga bakal disokong oleh PAN dan PBB. Setidaknya jika koalisi ini dapat difix kan, koalisi petahana akan menguasai sedikitnya 11 kursi, jauh dari cukup untuk sebuah dukungan sebagai prasyarat maju melalui partai politik.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa infrastruktur politik yang dimiliki petahana untuk menatap pilkada serentak 2020 tidaklah cukup. Tantangan terberatnya adalah ada pada pressure group atau kelompok penekan yang selama ini merasa tidak lagi sejalan dengan petahana. Klimaksnya adalah kasus hukum yang saat ini masih bergulir atas diri petahana merupakan sebuah keadaan yang bisa menggerus kantong-kantong pemilihnya. Terlepas apapun putusan pengadilan yang didakwakan kepada Ansharuddin nanti, hal ini akan meninggalkan stigma yang tidak menguntungkan secara politik. Imbasnya elektabilitas akan berpengaruh negative.

Selain pressure group, tantangan lain petahana adalah kelompok kepentingan yang mulai mengkritisi janji politik sang petahana di empat tahun lalu. Resonansi kekecewaan mulai mencuat seiring munculnya figure-figur calon bupati di Balangan. Dialektika ini kemudian diiringi oleh isu primordialisme, bahwa penting memberikan kesempatan kepemimpinan politik kepada putra daerah asli dari Balangan itu sendiri. Kendati isu primordialisme tidak memberikan pendidikan politik yang egaliter, namun realitas politik itu terjadi. Dan ini memberikan dampak signifikan.

Wajah dinamika sosial politik di Balangan juga diramaikan oleh calon dari perseorangan HM Riza Jahidi – HM Arsyad. Publik memiliki aternatif baru dalam pilihan pilkada 2020 mendatang.. Memutuskan mengambil ikhtiar politik melalui jalur independen, pasangan ini sedikit memberikan jawaban dari banyaknya apatisme politik setempat.

Tetapi upaya pasangan ini merebut kepercayaan publik tidak ringan. Kesulitan pertama dari independen tentu saja infrastrukturt politik. Hal ini menjadikan upaya pencalonan melalui jalur independen kalah cepat dalam segala hal. Terlebih jika figur independen tidak mengakar kuat di masyarakat dan minim pengalaman politik hanya akan menjadi pelengkap sebuah kontestasi.

Alasan maju sebagai jalur independen agar dapat menghindari biaya politik yang tinggi tidak tentu benar. Bagaimana pun, biaya politik jalur ini juga tak bisa dikatakan lebih efisien, mengingat system pemilu yang mempersyaratkan calon independen justru memiliki potensi biaya operasional yang lebih dari jalur partai politik. Satu sisi ia menghindari mahar politik, namun di sisi lain tantangan lapangan membutuhkan biaya operasional yang harus ditanggung sendiri. Dengan demikian tujuan-tujuan yang telah dirancang menjadi menjadi tidak maksimal.

Sulitnya menjajakan calon independen ini terbukti dengan minimnya jalur ini unggul dalam kontestasi pilkada. Data sebuah survey pilkada, peserta dari independen kemenangannya hanya di angka 14.4%. Kegagalannya jauh lebih besar, tanpa meniadakan peluangnya.

Selain H Ansyaruddin – M Noor Iswan dan HM Riza Jahidi – HM Arsyad, peserta lainnya adalah H Abdul Hadi. Ketua PPP ini merupakan calon yang sudah pasti akan diusung Partai PPP. Pengalaman politiknya tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain pernah menjadi Ketua DPRD Balangan, Abdul Hadi juga memimpin partai berlambang Ka’bah di Balangan yang menjadi runer up dalam pileg 2019.

Bermodalkan PPP, Abdul Hadi tidak akan sulit melenggang dalam pilkada 2020. Partai PPP tidak sendiri, diyakini Abdul Hadi juga membentuk koalisi yang signifikan bersama Parat Demokrat, Gerindra dan Nasdem. Jika koalisi ini dapat dibungkus, maka kekuatan Abdul Hadi sama kuat di legislative dengan petahana. Abdul Hadi masih memiliki peluang mengajak koalisi partai lain, seperti PDI-P yang saat ini masih galau dalam melabuhkan dukungan. Jika ini dapat ditarik, maka Abdul Hadi akan tampil sebagai pihak yang diusung oleh koalisi besar partai di Balangan, mengalahkan koalisi lainnya.

Munculnya nama Abdul Hadi akan menjadikan rival berat sang petahana. Abdul Hadi tidak saja memiliki basis massa yang terukur, namun juga memiliki rekam jejak yang mumpuni dalam dunia politik. Pernah “digagalkan”dalam pilkada 2015 lalu, membuatnya telah menyiapkan segalanya di pilkada 2020. Langkah-langkah konsolidasinya berada pada jalur yang tepat saat ini. Itu dibuktikan dengan kemampuannya membawa PPP sebagai pemenang kedua di pileg 2019. Bukti lainnya ia pun mampu membangun komunikasi politik antarpartai koalisi, sehingga sulit pihak lain untuk membendungnya melaju di 2020.

Abdul Hadi merupakan representative masyarakat hulu, yang meliputi dapil dua dan sebagian dapil tiga dalam pileg yang lalu. Jika kedua territorial dapil dua dan tiga ini dapat dikonsolidasikannya, maka 60% pemilik suara ada di daerah ini dan akan menjadi bagian darinya. Hanya kemudian Abdul Hadi membutuhkan figur calon wakil yang dapat memberikan kontribusi suara di bagian hilir, seperti Paringin Kota dan Lampihong. Tidak hanya itu, selain dinilai mampu meraup suara di daerah hilir, sosok wakilnya adalah representative birokrat yang memiliki akar ke basis massa.. Diyakini, Abdul Hadi akan memformulasikan hulu dan hilir serta politisi dan birokrat. Jika ini terealisasi, maka formulasi paslon yang dibentuknya akan sulit ditandingi oleh pasangan lainnya.

Mengintip strategi dan dinamika antarfigur yang bakal maju dalam pilkada Balangan 2020, maka kans kontestasi ini hanya akan menjadi milik H Abdul Hadi melawan H Ansharuddin. Jika melihat kekuatan politik dan dinamika sosial di masyarakat Balangan terhadap dua kandidat ini, maka H Ansharuddin memiliki banyak kelemahan. Sementara H Abdul Hadi memiliki kesamaan yang banyaknya dengan harapan masyarakat pemilih. Artinya saat ini dia memiliki semua kekuatan menatap pilkada 2020.