oleh

Menulis Dengan Teknik Feature Jurnalistik

-Opini-1.833 views

Oleh: Kadarisman.

Dalam dunia jurnalistik banyak ragam dan jenis tulisan. Ragam tulisan itu ada karena cara media menyampaikannya berbeda-beda, sesuai dengan karakterteristik media itu sendiri. Namun demikian, hakekatnya akan bermuara kepada tujuan yang sesungguhnya, sebagaimana termaktub dalam UU No 40 Tahun 1999.

Ada dua jenis tulisan yang sangat dikenal dalam dunia jurnalistik: straight news dan feature. Dua jenis tulisan ini pastilah sudah menjadi santapan yang hobi membaca Koran atau majalah. Umumnya tulisan jenis straight news ini digunakan oleh media yang terbit secara harian. Straight News adalah berita langsung. Jenis tulisan ini dibuat dengan maksud menyegerakan informasi paling penting kepada khalayak.

Sementara, feature banyak digunakan oleh media yang terbitnya berjangka, tidak setiap hari. Dua jenis tulisan di atas masih banyak turunannya. Itu nanti saja. Terlalu berkutat di tataran teoritis tidak asyik, kaku dan ngak enjoy. Jadi cukup itu saja yang akan dikupas.

Feature adalah karya tulis jurnalistik yang menyimpan informasi penting di akhir tulisan. Unsur subjektifitas masih diperbolehkan sepanjang tidak melenceng dari esensi tulisannya. Itulah sebab, tulisan feature ditulis dengan mencantumkan penulisnya. Maksudnya, supaya subjektifitas penulis yang tercampur di dalam tulisan, jelas siapa yang bertanggung jawab. Dampak dan resikonya, tanggung sendiri.

Kembali pada judul, fokusnya sekarang adalah tentang feature. Apa saja yang bisa dibuat tulisan dengan gaya tulisan ini, bagaimana memulai dan mengemasnya?

Menulis itu sederhana saja. Asalkan ada sedikit minat lalu mencoba menuangkannya kedalam tulisan, maka jadilah. Menulis feature itu mengalir saja. Persis ketika waktu kecil dulu disuruh guru mengisahkan sesuatu, ya seperti itu. Agar tulisan bernilai jurnalistik, jangan tinggalkan fakta-faktanya. Rumus 5 W plus 1 H, semua sudah pasti tahu, maka pegang teguh konsep itu. Agar tulisan lebih enak dibaca suguhkan pilihan kata yang memikat, sehingga mendekatkan pembaca pada yang kita tulis.

Berceritalah

Kabanyakan kita, bercerita itu sudah biasa, mudah dan sangat sering dilakukan. Feature ya tidak beda jauh dengan itu. Mengalir saja dan sesantai mungkin hingga sampai kepada inti pesan yang ingin disampaikan. Perhatikan hal-hal kecil yang sering terlupakan. Lihat dan ingat kembali hal-hal sederhana yang sering terlewatkan, karena sangat sering yang semacam itu justru menjadi sudut pandang yang kuat untuk dijadikan pesan utamanya.

Sampaikan Fakta

Bila sudah memiliki cerita, jangan lupa faktanya. Tulisan yang disampaikan harus benar-benar terjadi dan orisinil. Fakta yang harus disampaikan haruslah memenuhi kaidah jurnalistik. Unsur 5 W 1H, what, when, where, who, why dan how. Itu semua wajib dimasukkan

Apa yang ingin disampaikan benar-benar faktual, bukan diada-adakan. Apa isu dan pesan yang ingin dituliskan. Kapan kejadian itu berlangsung, di mana berlangsungnya, siapa saja yang terlibat di dalam cerita itu. Terahir bagaimana kejadiannya. Bagaimana kejadiannya di sini mulai dari rangkaian awal cerita itu hingga akhir. Bahkan lebih dalam lagi harus pula didapatkan latar belakang, motivasi dan lainnya hingga sebuah kejadian itu terjadi.

Mulai dan Tulislah

Umumnya kesulitan menulis itu ada pada intronya atau lead, paragraph pertama. Kesulitan tersebut tidak hanya dialami oleh penulis pemula, para senior pun kadang terjebak di layar monitor tanpa hasil yang progresif. Ada istilah, menulis itu diibaratkan seseorang yang baru pacaran. Pernah pacaran? Pasti pernah kan, tetapi saya belum hehehe.

Gimana tuh waktu pertama kali mau kasih cium pacarnya? Ada perasaan ragu-ragu bercampur was-was. Ada perasaan gemas bercampur kuatir. Pertanyaan pun hinggap begitu banyak di kepala, cium apa ngak ya? Kalau dicium marah apa ngak ya? Ragu-ragu bercampur hepotesis yang tidak-tidak; bagus apa tidak ya? Ah, repot! Ciuman pertama itu susah minta ampun.

Ciuman pertama itu kebanyakan pertimbangannya. Padahal pertimbangan kita terkadang justru bertolak belakang dengan harapan sang pacar. Pacar penginnya cepat-cepat dicium, hahaha. (becanda dikit boleh dong).

Masih belum lupa kan, dengan kenangan lalu itu? Setelah ciuman pertama mendarat, ciuman kedua seperti apa? Lebih santai pasti. Perasaan yang aneh-aneh tadi buyar. Tulisan pun lancar sampai akhir, karena yang sulit tadi cuma di permulaan. Tetapi hal itu tidak selalu benar, karena ada juga yang tidak mengalami kesulitan apa pun, termasuk perumpamaan yang satu tadi.

Kembali ke laptop. Memulainya tulisan bisa dari unsur 5W plus 1 H tadi . Misalnya, memulainya dari unsur when (kapan), sebagai contoh berikut:

Kamis 24 Juni 2011 sore menjelang pulang dari kantor di Dahai, Kabupaten Balangan, telepon genggam (hp), saya berdering. “Assalamu’alaikum! Pak Risman, saya, Indrie. Terima kasih telah menghubungi saya kemarin. Terima kasih juga pada Adaro, atas beasiswanya. Pokoknya, terima kasih deh!” (intranet adaro & bulletin envirocoal)

Memulai tulisan bisa juga berangkat dari unsur who (siapa):

“Pandangan Utuh Basar (54) layu. Air matanya menetes. Pipinya basah. Seharian sudah dia meratapi anaknya yang turut dilalap api bersama rumah reot warisan datu buyutnya. Utuh Basar itu lunglai. Tubuh dan ototnya yang besar tak mampu menahan butiran bening yang keluar dari sudut matanya. Dia menangis.”

Contoh ketiga, tulisan dapat dimulai dari unsur how (menuliskan keadaan atau situasi):

“Ada yang melonjak-lonjak kegirangan, ada juga yang meratap penuh kekecewaan. Sementara sekelompok orang saling bersalaman memberi selamat, kelompok lain saling mengelus punggung untuk memberi penghiburan dan saling menguatkan diri menerima kenyataan.”

Lukiskanlah

Kalau tadi bercerita menjadi modal, maka modal itu sedikit harus diubah ketika dituangkan kedalam tulisan. Feature hakekatnya tidak memindahkan sebuah kejadian ke dalam tulisan, tetapi lebih kepada melukiskan kejadian. Kalau pelukis menggambarkan objek di sebuah kanvas, maka tulisan jenis ini melukiskan dengan tulisannya.

Bahasa tulisan feature bertolak belakang dengan straight news yang kaku. Kalau di straight news seorang wanita cantik cukup dituliskan cantik. Pada jenis feature tulisan harus menggiring imajinasi pembaca bahwa seperti apakah cantik itu. Lukiskan dengan tulisan, bagaimana rambutnya, alisnya, matanya, tatapanya, suaranya, tubuhnya, kelembutanya hingga pada kesimpulan; cantik.

Menangis. Itu gaya straight news. Gaya feature bagaimana? Air matanya menetes. Pipinya basah, matanya layu memerah; menangis. Seperti itulah gaya bahasa di dalam feature.

Buatkan Judul

Gampang-gampang susah memang. Tetapi judul dalam tulisan feature lebih mudah dari pada membuat judul pada tulisan berita langsung, karena tidak ada syarat-syaratnya, seperti telling The Story. Di penulisan feature tidak perlu syarat-syarat itu. Untuk memudahkan, berikut panduan membuat judul yang bisa dijadikan rujukan bila sedang kebingungan:

Judul pepatah: “Buruk Citra, Media Digugat” Judul ini diinspirasi dari pepatah, “Buruk Rupa, Cermin Dipecah.” Judul ungkapan semusim: “Cinta Satu Malam, Oh, Sengsara”. Judul ini diambil dari ungkapan yang ada dalam judul lagu dangdut “Cinta Satu Malam, Oh asyiknya”. Judul ungkapan semusim ini bisa diambil dari ungkapan, lagu , seruan atau tagline Iklan yang sedang populer di masyarakat.

Terakhir, judul dapat pula diambil dari statement yang menggelitik atau ungakapan seorang subjek sentral. Contoh, “Priyadi: Ada yang Hamil, Pak Dur, Tanggungjawab!”

Judul itu pernah saya sajikan dalam tulisan feature ketika CSR Adaro memberikan ratusan sapi di daerah Kabupaten Balangan. Pak Priyadi yang suka bercanda itu ‘nyeletuk’ di depan bupati setempat. Diantara sapi yang dikasihkan itu ada yang hamil. Priyadi usil, Abdurahman jadi sasarannya. “Wah, ada sapi yang hamil rupanya, siapa yang tanggungjawab. Pak Dur, tanggungjawab!” ujar Priyadi ketika itu. Itu menarik bagi pembaca, maka saya ambil statement itu sebagai judul

Judul Dulu atau Tulisan Dulu?

Judul tulisan tidak perlu ada ketika menulis, saya kuatir hal itu akan memasung kreatifitas. Tetapi judul juga bisa ditetapkan lebih awal, agar dapat menggiring tulisan kearah yang dikehendaki. Tetapi itu tidak penting, kendati pun ada penulis yang menulis judul, baru menulis, bukankah itu lahir dari kejadian yang sudah dia konstruksi di dalam alam bawah sadarnya. Artinya dia pun menulis dulu di alam bawah sadarnya baru menemukan judul. Jadi menulis saja! Judul belakangan.

Penutup atau Closing

Kalau tadi dibuka, maka pada akhirnya harus ditutup. Terbuka terlalu lama, tentu tidak baik. Tertutup terus tambah repot. Jadi buka dan tutup itu sudah pasangannya, jangan dipisahkan.

Tulisan harus diakhiri manakala pesan yang ingin disampaikan sudah habis ditulis. Ciptakan ending yang berkesan. Kekuatan feature adalah menarik pembaca kedalam tulisan sampai titik terakhir. Buatlah alur tulisan yang mengarah kepada klimaks yang membuat pembaca penasaran akan cerita didalam tulisan itu.

Lalu, bagaimana mengakhirinya? Berikut tekniknya. Teknik ini hanyalah sebagai panduan ketika kebingungan mulai singgah: Teknik Pertama, buat kesimpulan pokok gagasan tulisan yang dibuat.Teknik Kedua, menautkan, caranya menutup tulisan dengan mengulangi sebagian dari yang disampaikan pada lead atau intro, paragraph pertama. Teknik ketiga, janji, menutup tulisan dengan memberikan janji atau harapan. Teknik keemapat adalah pertanyaan, yakni mengajukan pertanyaan yang menggelitik.

Berikut satu contoh:

Waktulah ketika lalu mempertemukan, lalu menciptakan rangkaian peristiwa yang patut dikenang. Waktu pulalah yang memisahkan sesuatu, lalu menciptakan keharuan, bahkan air mata. Namun demikian, itu adalah sunnah kehidupan, perpisahan hanyalah soal waktu dari sebuah perjumpaan. Sesungguhnya hakekat perjumpaan adalah juga berpisah lagi. Demikian pula hakekat perpisahan adalah awal bersua kembali. Kita akan bertemu lagi!

Closing ini, saya tulisan ketika perpisahan seorang pejabat sebuah perusahaan. Teknik yang sya gunakan: menyimpulkan tulisan, lalu menuliskan janji; kita akan bertemu lagi.

Teknik selanjutnya anda akan menemukannya sendiri ketika memutuskan menulis feature. Kemampuan menulis bukan dominasi teoritis, tetapi lebih kepada aplikasi kongkretnya. Satu hal pasti, referensi bacaan anda di rumah menentukan gaya bahasa itu sendiri. Itu!
Selamat mencoba!