oleh

Musim Banjir, Pengelolaan Sampah TPST Bantar Gebang Aman

JAKARTA – Meninjau kesiapan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menghadapi datangnya musim hujan, Wakil Menteri LHK Alue Dohong melakukan kunjungan kerja ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, dan Sumur Batu di Kota Bekasi, Jumat (03/01).

“Saya khawatir banjir air disertai banjir sampah. Syukur alhamdulillah, di TPST Bantar Gebang dapat tertangani dengan baik,” ujarnya.

Turut hadir mendampingi pada kegiatan ini yaitu Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 Novrizal Tahar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, dan Wakil Walikota Bekasi.

Pada kesempatan tersebut, Wamen LHK Alue Dohong juga memberikan bantuan sembako untuk para pemulung di TPST Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu.

“Bagi saya, pola pengelolaan sampah oleh Pemprov DKI Jakarta khususnya di TPST Bantar Gebang ini terlihat menjanjikan sekali. Disini juga circular economy sudah mulai dijalankan,” kata Wamen Alue Dohong.

Lebih lanjut, Wamen Alue Dohong mengungkapkan dulu sampah hanya menjadi sampah (waste to waste), sekarang juga dapat menjadi energi (waste to energy).

“Ini suatu hal yang positif dan prospektif kedepan bahwa sampah jangan kita lihat sebagai hal yang tidak berguna, tetapi tentu berguna secara ekonomi apabila kita kelola dengan baik dan benar,” ungkapnya.

Selain itu, disampaikan Wamen Alue Dohong, proses pengelolaan sampah seperti ini juga dapat memperpanjang “masa hidup” TPST Bantar Gebang.

Sejumlah terobosan yang dilakukan di TPST Bantar Gebang dengan landfill mining, pemanfaatan gas metana, dan PLTS dapat menjadi percontohan di seluruh Indonesia.

“Pemerintah dalam hal ini KLHK akan mendorong beberapa provinsi yang mempunyai buangan sampah diatas 1.000 ton/hari bisa belajar dengan DKI Jakarta,” pungkasnya.

Diketahui TPA Bantar Gebang yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, beroperasi sejak tahun 1989, dengan luas lahan 113,15 Ha yang terdiri dari landfill 81,40 Ha dan sarpras 23,30 Ha.

Kapasitas total timbulan sampahnya mencapai 7.708 ton/hari. Komposisi dan karakteristik sampahnya yaitu 43% sampah organik dan 35% plastik dan PET.

TPST Bantar Gebang juga menjadi lokasi pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang merupakan proyek kerja sama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemprov DKI Jakarta.

Dengan kapasitas 100 ton/hari, PLTSa menghasilkan output listrik hingga 700 kW/jam yang digunakan untuk keperluan internal PLTSa. Tahun ini, PLTSa ditargetkan dapat beroperasi penuh. (metro7/nrl/*)