BANDUNG, metro7.co.id – Media arus utama menjadi sumber informasi, pengetahuan dan hiburan bagi masyarakat yang memiliki peranan untuk memberikan penjelasan mengenai penyebaran, kebijakan pemerintah, hingga vaksin Covid-19 kepada publik untuk mengurangi ketidakpastian informasi.

Demikian dikatakan oleh Anggota Dewan Pers Ahmad Jauhar saat membuka diskusi “Persepsi Publik terhadap Pemberitaan di Media” yang berlangsung secara daring, yang digelar disekretaritan Dewan Pers, Jum’at (20/8/2021) siang.

“Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama di Indonesia, terdapat temuan menarik berdasarkan data akhir pada Januari atau awal Februari 2021 yang dilansir reuters instute, disebutkan sumber berita bagi warga indonesia yakni, Media Online, Media Sosial, Televisi dan Media Cetak,” tuturnya.

Acara yang dipandu oleh Tenaga Ahli Dewan Pers Winarto ini, menghadirkan narasumber dari tokoh pers Maria Y Benyamin (Bisnis Indonesia), Irfan Junaedi (Republika) dan Dewi Ajeung Widarini dari Universitas Prof.Dr. Moestopo (Beragama) serta diikuti oleh kurang lebih 87 peserta wartawan baik cetak maupun online dari berbagai daerah.

Tak hanya itu, Ahmad menjelaskan sumber yang sama media yang paling percaya oleh masyarakat Indonesia yakni CNN.

“Data tersebut menyebutkan kebanyakan masyarakat Indonesia menonton TV One sebagai media luring, dan Detik.com sebagai media daring,” jelasnya.

Lebih lanjut Ahmad mengungkapkan, menurut hasil survey yang dilakukan Edelman Trust Barometer 2021, tiga point meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 72 point.

“Tren komsumsi media di sebelas kota menunjukan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat yakni mencapai 13,8 persen pada 18 Maret 2020,” ungkapnya.

Di sisi lain tambah Ahmad, media sosial menjadi tantangan baru bagi media arus utama dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disajikan kepada masyarakat.

“Penggunaan media sosial sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat bagai pisau bermata dua, di satu sisi membawa nilai positif dan di sisi lain membawa nilai negatif. Dengan munculnya hoaks atau informasi yang mengandung mis-informasi, dis-informasi dan mal-informasi,” tandasnya.

Senada disampaikan oleh Irfan Junaidi dari Republika, menurutnya, media massa dihadapkan pada tugas baru, yakni menangkal hoaks.

“Publik mengalami banjir informasi yang bercampur dengan informasi palsu dan keliru, efeknya melahirkan persoalan, soal etika jurnalisme yang di masa lalu menjadi pegangan penting,” pungkasnya.*