BANGKA BELITUNG, Metro7.co.id — Rumah nyaman dan layak huni merupakan idaman setiap orang. Namun sepertinya harapan itu jauh lah panggang dari api bagi keluarga Yazur.

Di tengah kondisinya yang mengidap penyakit kulit selama setahun lebih, Yazur (52) bersama istrinya harus tinggal di gubuk berdinding terpal dan berlantai tanah.

Ketika ditemui di kediamannya, Lingkungan Sri Pemandang, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Rabu (01/12) sore, Yazur berkata sudah tiga tahun ini keluarganya tinggal di gubuk. 

“Hampir 3 tahun tinggal di sini, pak,” kata Yazur sembari duduk di kasur lusuhnya. 

Keterbatasan ekonomi membuat pria asal Tanjung Pinang itu tidak memiliki pilihan tempat tinggal lain yang lebih memadai. 

Jangankan membuat pondok sederhana untuk berteduh secara layak, makan sehari-hari saja, kata Yazur, keluarganya pas-pasan. 

Apalagi penyakit yang ia derita mengakibatkan dua jemari kakinya harus diamputasi karena terjadi penyumbatan pembuluh darah.

Sebelum sakit-sakitan, Yazur bekerja sebagai kuli bangunan. Namun kondisi kesehatannya kini membuat pria paruh baya itu pasrah menerima nasib. 

Sedangkan untuk biayai kebutuhan sehari-hari, istrinya, Herlina, rela ambil upah jaga kue dan mendulang bijih timah hingga ke daerah Bencah, Kabupaten Bangka Selatan.

“Jaga kue. Kadang ‘ngereman’ (mendulang timah-pen) di Bencah, pak,” ujar Herlina. 

Tak jarang Herlina meninggalkan suaminya seorang diri. Sebab, ia hanya bisa pulang satu minggu sekali. 

Baik Yazur maupun Herlina menaruh harapan besar terhadap pihak-pihak dermawan yang bisa membantu meringankan beban mereka. 

“Bisa punya rumah untuk berteduh sudah syukur, pak. Apalagi suami kondisinya begini sekarang,” harap Herlina dengan berlinang air mata. 

Namun harapan itu tampaknya berbuah manis. Pintu langit seakan terbuka lebar atas doa dan hajat yang dimunajatkan oleh sepasang suami istri tersebut. 

Setelah bertahun panjang mendiami gubuk seadanya itu, berkat Kepala Lingkungan Sri Pemandang yang baru terpilih, Ahmad Farisi, secercah harapan pun muncul. 

Atas informasi dari Ahmad, banyak pihak yang kini turut meringankan beban keluarga Yazur, salah satunya adalah Divisi CSR PT Timah Tbk. 

Rabu (01/12/2021) sore kemarin, tim Divisi CSR PT Timah Tbk memantau langsung kondisi gubuk keluarga Yazur. 

“Saya baru satu minggu ini tahu kondisi keluarga pak Yazur. Setelah itu saya minta tolong ke kawan-kawan wartawan dan semua pihak agar dapat menyebarluaskan keadaan keluarga pak Yazur ini. Alhamdulillah. Banyak yang respon dan ingin bantu, salah satunya pihak PT Timah ini, pak,” ungkap Ahmad kepada awak media. 

Doddy selaku Kabid CSR PT Timah Tbk yang turun langsung ke lokasi menegaskan pihaknya siap membangun rumah yang layak huni untuk keluarga Yazur. 

“InsyaAllah secepatnya, bu, kita akan bantu bangun rumah layak huni buat ibu dan bapak. Nanti tinggal minta tolong sama pak kaling bantu proses administrasinya,” ujar Doddy kepada Herlina dan Yazur. 

Ia juga mengatakan selain bangun rumah, pihaknya juga akan bantu Herlina dapatkan dana binaan UKM (Usaha Kecil Menengah) dari perusahaan, agar Herlina bisa memulai usaha kue kecil-kecilan, sehingga tak perlu lagi mencari uang sampai ke Bencah, Bangka Selatan. 

“Ibu kan bisa bikin kue. Kalau sekarang cuma bisa jaga kue orang. Nanti setelah rumahnya selesai, kita bantu ibu juga biar dapatkan modal untuk usaha bikin kue kecil-kecilan, ya, bu,” ujar Doddy. 

Mendengar hal itu, baik Herlina maupun Yazur tak kuasa menahan haru. Air mata sepasang suami isteri itu pun membasahi wajah lusuh keduanya. 

“Terima kasih banyak pak, bantuannya. Saya gak tahu harus ngomong apalagi. 3 tahun ini baru sekarang ada yang bantu kami. Berkat pak kaling (kepala lingkungan-pen) Ahmad ini juga. Terima kasih juga PT Timah. Semoga bapak-bapak dimurahkan rejeki. Semoga PT Timah berkah ya, pak,” tutur Yazur sambil terisak.[]