2 dari 3 halaman

Elly juga menjelaskan kalau teknis pembiayaan bibit, bahan, serta peralatan pendukung yang dibutuhkan pokmas ditransfer langsung oleh pihak BRGM ke rekening bank masing-masing pokmas.

Begitu pula dengan biaya upah kerja yang juga ditransfer ke setiap rekening bank anggota pokmas.

Karena itu dirinya menyangkal bila posisinya dalam program tersebut dikatakan sebagai pihak ketiga.

“Saya hadir berkenaan posisi saya sebagai pegiat lingkungan selain stafsus, dan perlu ditekankan saya bukan pihak ketiga dari program ini,” tegasnya.

Sementara untuk harga bibit pohon mangrove yang dianggarkan, kata Elly, senilai Rp2800 per batang.

“Biaya satu pohon tersebut Rp2800 per batang. Ternyata dapat informasi kasus di Belitung itu Rp1800 per batang. Setelah kita cek, mungkin terjadinya selisih harga karena ada di tingkat pokmas,” lanjut perempuan yang dikenal aktif sebagai aktivis lingkungan hidup itu.

Berkenaan dengan adanya selisih harga beli bibit mangrove yang sedang disoroti itu, dia menyarankan menanyainya ke pihak pokmas daerah yang bermasalah.

“Jadi selisih Rp1800 yang dipermasalahkan sebaiknya ditanyakan ke daerah bermasalah, dari kelompok [kerja] masyarakat yang ada di Belitung, sehingga timbul gejolak ini,” tutup Elly.