Kadarisman
(Presidum Majelis Daerah KAHMI Tabalong)

Ramadhan tak ubahnya sebuah kelas. Bulan istimewa tersebut Tuhan jadikan sebagai penempaan bagi hamba-hambanya yang beriman. Dari kelas itu Tuhan ingin hamba Nya menjadi yang sederhana agar taqwa dapat diraih dengan sempurna.

Masalahnya, menjadi sederhana bukan persoalan sederhana. Agar sederhana itu perlu effort kesadaran penuh untuk menepikan egoisme dan eksistensi di belantara fitrah diri sebagai manusia yang selalu ingin minta “tangguh”.

Sifat alamih manusia yang tak pernah cukup menjadi jalan berliku untuk sampai pada keadaan sederhana. Itu sebab, Ramadhan ini menempa kita agar menjadi pribadi sederhana sebagai tools mencapai taqwa.

Sederhana bukan milik orang-orang papa dan miskin, karena kemiskinan tak menjamin pribadinya sederhana. Sederhana bukan milik orang marginal, yatim atau dhuafa, karena tak ada jaminan hati dan pribadinya tidak sombong kepada Allah. Kerasnya hati dan jauh dari taat kepada Allah adalah kepongahan dan congkak dapat meliputi hati dan pribadi siapapun tanpa batas strata sosial apapun. Adagium, biar miskin tapi sombong, itu benar-benar ada.

Rendah dan tak berpunya, berkedudukan dan kaya raya juga bukan jaminan mampu sederhana. Karena kerap posisi dengan kelebihan material berpotensi sama besarnya terjebak dalam persoalan lebih serius. Satu sisi dekat dengan kekufuran dan sisi lainnya rawan menjadi pendusta agama. Potensi itu yang Tuhan singgung di dalam Qs Al Ma’un dengan pernyataan keras: “Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?”

Jika diri kita selama ini merasa sederhana, belum tentu, karena boleh jadi hanya tidak mampu, lalu berkilah sederhana. Selama ini kesederhanaan kita maknai sebagai kondisi lemah dan ketidakmampuan. Padahal kesederhanaan adalah kondisi ketika kita mampu marah, tetapi kita memilih melembutkan hati agar tidak melukai. Ketika kita mampu memakan banyak, tetapi hanya memakan seperlunya.

Dalam sebuah hadist riwayat Tarmidzi pernah dikatakan bahwa Rasulullah SAW tak pernah merasakan kenyang karena makan roti dan kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu. Pada riwayat lain Umar bin Khattab pernah menangis ketika melihat alas tidur membekasi belakang Rasulullah, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Umar sebab apa dia menangis.

“Saya teringat Kisra (raja Persia) dan kaisar Romawi. Anda adalah Nabi Allah, tidur di tempat seperti ini, sementara mereka tidur di atas ranjang emas, dan pakaian mereka kain sutra yang bagus.”

Bagi Nabi Muhammad SAW yang ketika itu sebagai penguasa negeri, pemimpin kaum muslimin, tersohor, berpengaruh bukan perkara sulit untuk tidur di ranjang empuk dan berkain sutra lembut. Rasulullah memilih tidur beralas tikar bukan pula karena miskin dan ketidakmampuannya, tapi justru ketika dia berada di atas segalanya.

Sederhana itu kondisi ketika kita kuat, tapi memilih memberdayakan yang lemah. Sederhana itu ketika kita bisa membeli satu baju yang mahal, tapi memilih beberapa baju yang baik untuk bisa dibagi buat orang lainnya. Sederhana itu ketika bisa makan apa saja, tetapi memilih sedikit dan lebihnya buat tetangga lainnya.

Maka firman Allah pada Qs Asy Syuraa: 15 -152, “Bertaqwalah dan taatlah kalian kepada Allah. Jangan kalian menaati perintah orang yang suka berlebih-lebihan, yaitu orang-orang yang sering melakukan kerusakan tanpa mau memperbaiki.

Hati yang mudah terjebak dalam kebencian adalah perilaku yang merusak. Perasaan yang selalu buruk prasangkanya, hasut, ghibah, fitnah adalah bagian dari orang yang juga merusak dan berlebih-lebihan dalam membangun relasi berkehidupan.

Menyederhanakan hati sungguh bukan perkara mudah, karena selain memerlukan ikhtiar sadar juga memerlukan medan latih dan kelas yang khusus seperti yang Tuhan buka kelasnya di tiap bulan Ramadhan.

Jadi memang Ramadhan ini adalah kelas yang syaratnya bukan karena orang kaya atau miskin. Syaratnya adalah beriman kepada Allah. Dengan modal keimanan itulah apapun kemudian status sosial seseorang dalam kehidupan akan mampu menjadi pribadi sederhana yang memesona. Berangkat dari sinilah kesalehan kepada Tuhan dia dapatkan melalui jalan kesalehan sosial yang dapat direkatkan dalam kehidupan nyata.

Selamat datang dan masuk kepada kelas Ramadhan agar menjadi pribadi yang simple dan tidak ruwet bin njelimet. Sederhanakan saja. Life is simple!*