“Pelacuran Tabalong” Terbesar se Banua Enam, Bumi Sarabakawa Terancam Ekspansi Dolly

Reporter : Koran Metro7 - Dibaca : 179 kali

TANJUNG – Kabupaten Tabalong boleh dikatakan sebagai kotanya pelacuran terbesar sebanua enam (HSU, HST,HSS, Balangan dan Tapin). Selain ada lokasinya, para penjaja sex tersebut juga bergentayangan di beberapa warung-warung malam (warung  jablay) yang ada di Bumi Emas Hitam ini.
Bahkan publik di Tabalong cukup khawatir pasca penutupan prostitusi Dolly Jawa Timur akan berekspansi atau hijrah ke kota Bersinar Tanjung.
“Sebagai orang tua dan seorang ibu tentunya kami khawatir bila masalah maraknya pelacuran di tabalong ini tidak segera dituntaskan akan berdampak buruk bagi generasi Tabalong yang akan datang. Maka itu kami meminta ketegasan para pemimpin di Tabalong agar segera membumi haguskan adanya praktek diharamkan agama itu,” kata Idah warga Tanjung saat dimintai komentarnya.
“Ya tentunya kami warga Tabalong cukup khawatir pasca penutupan prostitusi dolly di Jatim oleh Gubernur Risma akan berpindah ke Tabalong. Kami minta ketegasan dan sikap berani dari Pemda untuk membersihkan penyakit memalukan dan sudah terjadi puluhan tahun yang bernama prostitusi di Banua yang dicintai ini,” imbuh Arman warga lainya.
Dari informasi beberapa pihak yang didapat wartawan, puluhan tahun fenomena tumbuh suburnya pelacuran di Tabalong  berawal dari masuknya perusahaan minyak bernama PT Pertamina, dan semakin tambah subur semenjak dinasti pertambangan yang dikenal dengan PT Adaro Indonesia (PT AI) memasuki kota yang berjuluk Sarabakawa ini. Kenapa tidak, hal itu dibuktikan maraknya tempat-tempat pelacuran disekitar perusahaan Tambangnya PT AI . Dan akibat ekonomi masyarakat meningkat akibat pertambangan, tak sedikit para penjaja sex luar daerah berhijrah ke Tabalong, seperti  yang diangkapkan Sari penjaga warung Jablay, dia bersama rekan-rekannya yang berasal dari luar daerah mengais rejeki sambil buka warung plus menjaja sex disekitar areal pertambangan.
Memang agak Ironis, kota yang mempunyai Visi Misi “agamis” seakan terbendung, dengan maraknya pelacuran. Pemkab dan DPRD terkesan tidak berdaya dan seakan menganggap hal itu masalah wajar dan biasa-biasa saja. Mau bukti ? contohnya saja raperda tentang penanganan pelacuran mengganti perda lama yang dianggap lemah, selalu gagal disahkan, “dengan alasan bukan prioritas!”. Padahal dalam segi pengaruh anak-anak pelajar maupun segi kesehatan, palacuran di Tabalong sudah memasuki fase menghawatirkan, dari data Dinas Kesehatan 2014, jumlah penderita HIV/AIDS di Tabalong sudah ditemukan 46 orang penderita, jumlah itupun  diperkirakan masih banyak, karena datanya didapat cuma dari pasien yang berobat dirumah sakit, tanpa memeriksa dilokasi pelacuran.
Sebelumnya, Kepala Kesbanglinmas Tabalong, H Saberan, mengakui kesulitan dalam memberantas pelacuran di Tabalong, karna dikatakannya tempat-tempat yang diindikasikan sebagai  lokasi jajan sex, ditutup tutupi dengan alasan cuma membuka warung.
“Pernah dulu ada wacana agar penjaja sek di Tabalong ini supaya dibuatkan lokalisai khusus, dengan niatan supaya mereka dapat dibina, dan dikontrol perkembangannya, tapi hal itu cukup delematis, mengingat ketidak setujuan dari berbagai pihak,” katanya.
Adapun lokasi yang cukup terkenal di Tabalong ini, selain berada diperkotaan, juga di beberapa Kecamatan dan warung-warung Jablay sekitar perusahaan Tambang. (zul fahmi)

Share :