Home / Desa Membangun Negeri / Kalimantan Barat

Senin, 6 Juli 2020 - 16:24 WIB

Pihak Desa Anggarkan Pencegahan Karhutla Atas Permintaan Wabup Sintang

Reporter : M Khairil Ismitullah - Uploader - Dibaca : 26 kali

 

SINTANG, metro7.co.id – Wakil Bupati Sintang, Kalimantan Barat, Askiman meminta pihak desa di daerah tersebut menganggarkan biaya gotong royong saat membakar lahan pertanian (ladang) dengan cara membeli alat pemadam kebakaran.

” Persoalan Karhutla merupakan tanggungjawab kita bersama baik itu pemerintah mau pun masyarakat, untuk itu saya minta pihak desa menganggarkan biaya gotong – royong untuk mengantisipasi terjadinya Karhutla,” kata Askiman, di Sintang, Kalimantan Barat, Senin.

Disampaikan Askiman, menyikapi persoalan Karhutla yang sudah terjadi sejak dulu telah dikeluarkan Peraturan Bupati Sintang nomor 18 Tahun 2020 Tentang tata cara pembukaan lahan bagi masyarakat.

Menurut dia, Perbup itu diharapkan mampu mengatur tata cara pembakaran lahan saat masyarakat membuka ladang.

” Kita perlu bersama dalam mengatasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan menerapkan peraturan tersebut,” pinta Askiman.

Askiman yakin persoalan Karhutla akan bisa dikendalikan apabila masyarakat mematuhi peraturan Perbup yang telah di sosialisasikan.

Untuk itu perlu, sinergitas semua pihak, terutama pemerintahan desa agar dapat lebih aktif dalam pencegahan terjadinya Karhutla, salah satu contoh mesti ada anggaran khusus di desa dalam mengantisipasi karhutla.

Dikatakan Askiman, patut di contoh Kecamatan Kayan Hulu, dimana menurut Askiman tata cara berladang di daerah tersebut sudah sangat bagus dan rapi.

” Saat warga membakar ladang, sekat api bersih sampai ke kulit tanah dan jaraknya sampai empat meter, kayu – kayu di tumpuk dengan rapi dan terpola, jadi saat menaman padi (nugal), susunan padi pun rapi,” ucap Askiman.

Menanggapi persoalan Karhutla, Temenggung Adat Desa Mapan Jaya, Odong menjelaskan masyarakat yang berladang sudah masuk masa menebang dan menebas.

Menurut dia, tahun ini peladang cukup meningkat dan bertambah, sebab masyarakat sangat merasakan dampak dari pandemi COVID – 19.

” Masyarakat menilai akan terjadi musim panceklik maka masyarakat mempersiapkan ketahanan pangan dengan menanam padi,” kata Odong.

Untuk itu, ia pun berharap terjadinya Karhutla jangan semata – mata menyalahkan petani, jangan sampai dalam penegakan hukum tidak terjadi tebang pilih antara petani dan pihak perusahaan, sebab masyarakat berladang sudah sejak nenek moyang. ***

 

Sumber : Antaranews.com

Share :