oleh

Sembuh dengan Rasa Bahagia

-Opini-4.188 views

Oleh: Kadarisman (Konsultan & Praktisi PPA For Healing – Spiritual Emotional Freedom Technique) di Tabalong

Mestinya Minggu, 22 September 2019 saya Training Heart Mastery di Novotel Banjar Baru. Entah sebab apa, panitia berkirim Khabar via wa, training ditunda. Padahal di malam sebelum hari H training itu saya dijadwalkan team untuk praktik private di kota yang sama menerima beberapa pasien.

Tetapi prinsif kejadian tak ada yg kebetulan, kecuali Allah membuat plan yang tak kalah bernilai. Benarlah. Rupanya hari ini saya diperjumpakan dengan teman-teman PFH yang sedang bersedekah energi di Flambon dan bersama-sama kemudian di kegiatan itu. Sedekah ini energi ini ditunggu-tunggu karena sudah lama vakum. Allah perencana kejadian terbaik.

Usai sedekah energi itu, saya kemudian dijemput oleh teman lainnya, Bapak Nurdiansyah. Tetangganya stroke sudah 1.5 tahun. Tiba di rumah si sakit, bersalaman penuh hangat. Bapak yang sakit itu gemetaran. Berkaca-kaca matanya, bergetar bibirnya. Berucap dia, “Aku takut. Takut! Takut sama Mas” Lalu pecah tangisnya. Guguran banyu matanya. Pecah suaranya. Terapi belum dilakukan, usai menangis si sakit merasa enting.

“Alhamdulillah, kaki saya enting, ringan, tangan saya gak sakit lagi, gengaman juga kuat. Alhamdulillah.” Ada bahagia yang ia rasa. Bahagia yang dalam, meskipun sembuhnya belum lagi total. Bahagia itulah obat baginya, untuk sembuhnya.

Apakah bagi orang yang sakit, kesembuhan adalah kebahagian? apakah bagi orang miskin, bahagia adalah kaya raya? Apakah bagi orang kaya, bahagia kalau ia dapat selipat lagi mengganda kekayaan?

Bagi Mbah Gotho yang viral di pelbagai kanal berita, bahagia bila bisa mati. Pria dari Sragen Jateng itu berusia 146 tahun. Bosan tampaknya sudah dia dengan dunia. Umur panjangnya tak buat dia bahagia. “Saya hanya ingin mati.”

Bersilang pendapat lah orang menempatkan bahagia pada ukuran bermacam-macam.

Leo Tolstoy, sastrawan Rusia menulis bahagia itu ketika ditemuinya suka cita tapi tak mau diambil nya sendiri, kecuali berbagi dengan orang lain. Karena banyak orang mengira ketika dia borong semua rasa bahagianya, bahagia akan jadi miliknya.

Ibnu Khaldun menerangkan bahagia itu adalah tunduk pada garis garis yang ditentukan Allah dan perikanusiaan.

lalu Imam Al Ghazali menulis bahagia itu bila mana ia dapat mengingat Allah.

Aristoteles menulis bahagia itu suatu kesenangan yang dicapai menurut kehendak seseorang.

KH Hamka pun menulis tentang bahagia pada titik batas sampai ketika seseorang kenal akan Tuhan nya: baik ma’rifat kepadaNya, baik taat kepadaNya dan baik sabarnya atas musibah-Nya. Tak ada lagi bahagia di atas pada itu.

Tak jarang ketika terapi PPA Healing, si sakit menyadari betapa dhoif nya diri, muncul sesalnya, lalu ingat Tuhan nya. Terkenang jalan salahnya, terbayang jalan pulangnya kepada Allah. Kemudian menangis si sakit. Dilupakannya deritanya, dirindunya hanya tentang Allah. Damai seketika hatinya. Sembuh sakit yang ia keluhkan. Walau menurut pandang orang lain dia belumlah sembuh. Kesembuhan sejati tidak pada fisik tapi pada apa yang hatinya rasakan.

Bagi praktisi PPA For Healing, jadi manfaat pada penyembuhan juga bahagia. Menjadi wasilah Allah, praktisi PPA membantu menghadirkan Iradah, persangkaan baik, positif feeling hingga menjadi kumparan dalam akal pikiran yang kian menguatkan iradahNya atas perasaan-perasaan baik. Sehingga tak heran kemudian segala sakit menjauh, keluh resah bergantian untaian syukur. Bahagia.

Seorang tabib termahsyur yang juga seorang hakim di bangsa Arab kuno berujar: hendaklah kau masukan keyakinan pada hati pasien, bahwa sakitnya tak berbahaya, lalu dia akan lekas sembuh.

Dikatakan bahwa kuatnya manusia bukan pada tenaganya atau jabatan atau profesi apalagi ganteng dan cantiknya. Kuat manusia bersumber dari yang tidak tampak. Sama halnya dahsyatnya nuklir, kekuatannya bersumber dari atom. Ketika atom itu dibelah lalu menjadi kuanta yang mana tak lagi itu tampak oleh mikroskop super hebat sekalipun. Maka pada manusia kekuatan kuanta nya ada pada yang tidak tampak, yakni perasaannya dan pikirannya.

Jalaludin Rumi menuliskan, bahwa Dia Allah yang menciptakan yang tidak ada menjadi ada. Walau tampak nyata ada, Dialah yang menciptakannya tampak tidak ada.

Perasaanmu, persangkaanmu dan pikiranmu itu ada tapi tak tampak. Itulah kekuatan sejati. Di situlah simpul dan rahasia penyembuhan. Allah telah menciptakan tools penyembuh dalam diri manusia itu sendiri. Sentuhlah pada bagian itu dan jadilah bahagia. Maka, kau akan tahu siapa dirimu. Step awal menjuju Tuhan mu. Bahagia dan mengenal dirimu sendiri tak butuh syarat.