oleh

Usai Diberi Pengetahuan Mabes Polri, Pasukan Siber Polda Makin Handal

BANJARMASI – Sosialisasi selama tiga hari untuk memperkaya pengetahuan jajaran Polda Kalsel terkait penanganan sosial media oleh Divisi Humas Polri ditutup oleh Irjen Pol M Iqbal Kamis tadi di Aula Mathelda Polda Kalsel.

Dalam acara penutupan tersebut turut hadir Kapolda Kalsel Irjen Pol Yazid Fanani, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol M Iqbal, Kepala Biro Multimedia Brigjen Pol H. Budi Setiawan, seluruh pejabat utama Polda serta humas-humas polres di jajaran Polda Kasel.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan bahwa saat ini adalah era globalisasi, dimana dunia menjadi serba mudah, perkembangan teknologi informasi berjalan seiring dengan era demokrasi, dimana panglimanya adalah rakyat dan seluruh kebijakan harus mendapat restu dari masyarakakat.

“Oleh karena itu pak Kapolri mengeluarkan program Promoter. Sebab kata professional tidak pernah ada titiknya, dimana menuntut kita jajaran polri harus terus belajar dan menyesuaikan,” katanya.

Dijelaskannya, kebijakan manajemen media sebagai unggulan, sebuah strategi tentang bagaimana dapat mengamplikasi berita positif dan menekan berita negative.

Fungsi humas disebutnya sudah menjadi fungsi utama, bukan lagi pendukung. Dalam menyaring informasi media, khususnya media social yang tanpa adanya filter atau langsung tayang.

“Pengetahuan ini saya rasa tepat dilakukan di Kalsel, sehingga anggota disini bisa melaksanakan pemantauan dan analisis terkait media sosial, sehingga kita memiliki pasukan siber handal dan militan,” katanya.

Kadiv Humas Polri yang pernah bertugas di Polda Kalsel ini juga menjelaskan bahwa saat ini pelaku negative di media sosial sengaja memanfaatkan momentum untuk melakukan profokasi sehingga sebuah konflik bisa terjadi, contohnya apa yang terjadi di Papua dan Papua Barat.

Sementara Kapolda Kalsel dalam sambuatannya menegaskan bahwa
manajemen media adalah bagian penting bagi tugas polri, dimana disebutkan siapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia.

Kapolda juga sampaikan bahwa melalui social media tentunya dapat banyak manfaatnya, bisa juga untuk menyebarkan nilai kebajikan, persahabatan, toleransi.

Namun media social juga dapat digunakan untuk hal negative seperti hasutan, fitnah, berita bohong, persekusi ujaran kebencian yang tidak hanya dikelola perorangan, juga industry hoax, dan juga digunakan sel-sel radikal untuk melakukan sebaran faham radikal dalam menyulut konflik dan perpecahan.

“Sehingga dirasa perlu adanya sosialisasi dalam rangka peningkatan kemampuan anggota kita dalam mencegah dan menangkal hal-hal negative, sehingga konflik dan perpecahan bisa dicegah secara dini, demi terciptanya situasi aman, tertib, damai,” imbuhnya. (metro7/nrl)