oleh

Wartawan itu, Nol

-Opini-2.225 views

Oleh: Kadarisman

Pemerhati Sosial, tinggal di Tanjung, Tabalong

Dulu kala. Zaman bahula di sebuah negeri antah berantah pernah terjadi kekacauan. Kekacauan itu bermula dari sebuah ruang keuangan sebuah negeri. Apa sebab? Persoalannya sangat sepele, yaitu angka-angka yang biasa digunakan petugas keuangan untuk menghitung gajih petugas Negara terlibat debat kusir. Loh? Iya. Beneran! Itu terjadi karena diantara mereka sedang beradu hebat. Satu diantara lainnya sama-sama merasa paling jago, paling super.

Debat itu benar-benar terjadi. Di sebuah ruangan, angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9 dan angka 0 berkumpul. Belum pernah sebelumnya angka-angka ini terlibat ribut begitu sengit. Ini terjadi gara-gara si angka satu yang jumawa. Kepada angka lain, si angka satu merasa paling hebat. Apa pasal? Lihat saja semua pasukan Negara berlomba menjadi yang nomor satu. Sekarang pun kecap dengan bangga beriklan dengan angka satu, seolah produk lain tiada banding. Kopiku nomor satu di dunia. Angka satu bangga.

Si angka dua segera maju menyela si angka satu. Katanya, angka dua adalah yang paling hebat. Angka dua adalah paling konsisten, tidak seperti si satu, tidak konsekuen. Mau contoh? Coba jumlahkan 1+1=2. Sekarang coba dikalikan 1×1=1. Itu bukti betapa angka satu itu tidak berpendirian. Bandingkan angka 2. Hitung saja 2+2=4. Hasilnya akan sama dengan 2×2=4. Hehehe.. Siapa yang hebat?

Tentu saja aku yang hebat sambut si angka tiga. Si angka tiga dengan bangga berucap, tahukah kalian siapakah yang menjadi kebanggaan mahasiswa, kebanggaan polisi dan kebanggaan abang becak? Akulah si angka tiga. Kenapa? Karena mahasiswa bangga dengan tritura, tridarma. Polisi bangga dengan tribrata. Abang becak bangga dengan becaknya yang roda tiga. Bahkan nyamuk di sini takut sama roda tiga hehehehe. Betul tidak?

Roda tiga dibanggain, ucap angka empat tak tahan dengan bualan si angka tiga. Siapa yang pernah lihat mobil BMW, Alpart, atau fortuner? Yang pernah lihat coba dihitung rodanya ada berapa? Pasti empat! Anda tahu kambing guling. Rasanya bagaimana? Enak pastinya. Kambing guling itu kakinya bukan tiga, tapi empat. Itulah aku, ujar si angka 4. Jadi aku ini kelas gedungan, kelas ningrat dan kelas prasmanan.

Betul sekali ujar angka lima. Empat memang hebat, tapi angka lima lebih hebat lagi. Orang Indonesia bangga dengan pancasila yang punya 5 sila. Orang Islam sangat taat dengan lima waktu.

Angka enam tak mau kalah. Dia mengaku hebat juga daripada yang lain. Kenapa hebat? Karena diyakininya Tuhan menciptakan dunia ini dalam tempo 6 hari atau 6 masa.

Memang betul, ujar angka tujuh. Tuhan memang ciptakan bumi dalam 6 masa, tetapi pada hari ke tujuhlah dunia itu disempurnakan-Nya. Jadi saya paling hebat. Tidakkah pernah didengar tentang 7 lapis langit dan 7 lapis bumi? Dulu orang pernah bangga dengan apa yang disebut 7 keajaiban dunia. Ini dulu lho ya, bukan sekarang! Yang pastinya sekarang ini, kalau manusia diserang pusing yang amat sangat, maka dikatakan pusingnya 7 keliling. Hebat bukan?

Tetap saja aku yang paling hebat, angka delapan nyeletuk. Kelebihan angka delapan tidak banyak. Hanya satu, yakni kalau dibulak balik angka 8 tetap tidak berubah. Coba saja kalau tidak percaya! Bagaimana, tetap angka 8 bukan?

Emang gue anak kecil apa? Dibulak balik 8 ya emang begitu, angka Sembilan angkat bicara. Diantara semua angka, hanya angka 9 yang paling baik dan paling hebat. Coba saja semua angka, kecuali angka 0 bila dikalikan dengan angka 9 jumlahnya tetap 9. Coba saja 2×9=18. Angka 18 terdiri dari angka 1 dan 8, 1+8 bukankah sama dengan angka 9. Lagi, 13 x 9 = 117. 117 terdiri dari angka 1,1 dan 7. Coba jumlahkan 1+1+7 sama dengan angka 9. Angka berapa lagi? Silakan saja dicoba. Angka Sembilan itu kebanggaan. Sama halnya bangsa Indonesia yang muslim bangga dengan wali songo atau wali 9.

Semua angka sudah berbicara dan mengaku hebat. Siapa lagi yang belum berbicara.? Angka-angka ini bertanya diantara mereka. Ooh iya, angka 0 ketinggalan. Angka 0 belum sedikit pun bersuara. Dari tadi hanya duduk di sudut ruang. Angka 0 silakan giliran anda!

Angka 0 beringsut maju ke depan. Dengan tenang angka 0 berbicara. Dengan suara rendah angka 0 mulai angkat suara. “Saya ini siapa? Angka 0 seperti saya ini punya arti seberapa. Para orang tua kerap sedih, kalau anaknya di sekolah dapat angka 0. Saya ini apalah. Angka 0 kalau mau dijumlah 0+0 hasilnya tetap 0. Dikali sekali pun, 0x0 hasilnya tetap 0. Angka-angka lainnya mendengarkan serius ucapan angka nol.

Angka nol lanjutkan bicara. “Cuma satu yang saya minta.”

“Apa itu?” kata angka-angka bersamaan tidak sabar.

“Letakkanlah saya di kanan saudara-saudara. Jangan aku diletakkan di kiri saudara-saudara,” ujar angka nol.

“Kenapa?”

“Kalau saudara-saudara meletakkan aku di sebelah kanan, maka aku akan besarkan saudara. Sebaliknya, bila saudara letakkan aku di sebelah kiri, itu artinya saudara mengecilkan diri saudara sendiri.

Angka-angka itu mulai sadar, ternyata si angka nol sangat berarti dan penting. Mereka itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan untuk saling menguatkan. Maka sadarlah angka-angka itu, bahwa mereka membutuhkan yang lain, bahkan angka 0. Mulai saat itu mereka tidak ingin lagi memandang remeh angka nol.

Pertanyaan selanjutnya adalah, siapakah angka nol itu sebenarnya? Dialah wartawan. Seorang wartawan adalah mitra yang harus ditempatkan pada posisi yang layak. Menempatkannya di sebelah kanan kita, berarti memuliakannya. Bukankah kanan adalah anjuran kemuliaan. Dahulukan yang kanan dari pada kiri. Makanlah dengan tangan kanan. Kanan posisi mulia yang dianjurkan. Jika ingin bertumbuh, tempatkanlah mitra kita di tempat yang memuliakannya. Tunggulah dia akan membesarkanmu. Jadi hati-hatilah menempatkan wartawan atau siapapun dalam kehidupan. Salah tempat, hidupkan akan salah***