SANGGAU, metro7.co.id – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sanggau Joni Irwanto berharap media masa dapat menjadi penyeimbang untuk mematahkan isu hoax yang kian berkembang begitu cepat di tengah masyarakat, hal itu disampaikan Joni saat coffee morning bersama sejumlah wartawan, Jumat (21/10).

“Hoaks ini akan terus tumbuh dari waktu ke waktu. Sistematisasi hoaks akan sangat sulit dihilangkan. Tetapi paling tidak, upaya meminimalisir hoaks mesti terus dilakukan. Edukasi-edukasi kepada masyarakat harus tetap dilakukan,” jelas Joni.

Coffee morning yang juga dihadiri narasumber dari Kesbangpol, KPU dan Bawaslu Sanggau tersebut digelar sebagai wadah sharing dan tukar pikiran terkait hoaks, yang juga sangat berpotensi saat menjelang pemilihan umum 2024 yang akan datang.

“Kecenderungan hoak pada momen-momen tertentu memang kerap kali diciptakan. Bisa jadi sebagai cara mengganggu kondusifitas yang sudah baik. Termasuk juga saat momentum pemilu. Apalagi misalnya isu-isu yang dihembuskan berkenaan intoleransi dan lainnya yang bisa merusak keharmonisan masyarakat di Sanggau. Secara umum, kita mesti cegah ini secara bersama-sama,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia, peran media sangat besar. Bersama-sama dengan pemerintah, dalam lingkup yang lebih kecil, Kabupaten Sanggau, media memang diharapkan menjadi corong edukasi publik, sehingga pesan dari informasi-informasi yang ada dapat tersampaikan secara utuh dan akurat.

“Sejauh informasi yang disajikan oleh media massa dapat dipertanggungjawabkan, sesuai fakta dan konfirmasi, sejauh itu pula, hoaks dengan sendirinya dapat terbantahkan. Hanya saja perlu energi ekstra untuk mewujudkan kondisi normatif semacam itu,” katanya.

Diakuinya, untuk lingkup Kabupaten Sanggau, sejauh ini masih terbilang normal. Media massa, baik cetak maupun elektronik, dianggap telah memiliki visi yang sama dalam mencegah dan mengedukasi permasalahan hoaks. Dirinya justru mengantisipasi bahaya media sosial (Medsos) yang sangat sulit dikendalikan. Apalagi produk isu yang dipublis sangat membahayakan dan dapat memperkeruh suasana.

“Persoalan medsos ini memang krusial. Jadi kalau hoaks untuk kalangan media massa, kami kira rambu-rambunya sudah ada. Begitu juga halnya dengan jurnalis, tidak mungkin juga membuat pemberitaan yang secara sadar untuk menyebar hoaks kepada masyarakat. Tetapi yang sifatnya medsos memang harus lebih ekstra dalam pengawasan. Termasuk juga dari rekan-rekan kepolisian dengan cyber crime yang terus berupaya membantu memerangi hoaks dan juga transaksi elektronik,” terang dia.

Kepada masyarakat, Joni mengimbau untuk tidak mudah termakan dengan informasi yang belum jelas kebenarannya. Karena, masyarakat juga punya peran yang sangat besar dalam meminimalisir sebaran hoaks yang sangat membahayakan.