SINGKAWANG, metro7.co.id – Rendahnya angka keterwakilan perempuan di parlemen sedikit banyak berpengaruh terhadap isu kebijakan terkait kesetaraan gender dan belum mampu merespon masalah utama yang dihadapi oleh perempuan.

Perjuangan kaum perempuan dalam penulisan sejarah di Indonesia cenderung terpinggirkan. Padahal menurut Eni Herlina sejak awal abad ke-19.

Eni Herlina mengatakan, saat ini partisipasi perempuan Indonesia masih di bawah 30 persen. Pentingnya peningkatan partisipasi perempuan supaya pengambilan keputusan politik yang lebih akomodatif dan substansial. Selain itu, menguatkan demokrasi yang senantiasa memberikan gagasan.

“Beberapa wanita Indonesia telah tampil dalam membela tanah air dan bangsanya, sebut saja Nyi Ageng Serang XIX, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Nyai Walidah Ahmad Dahlan dan lainnya,” kata Eni Herlina selaku kader Partai Gerindra Kalbar, sekaligus Caleg DPR RI dari Partai Gerindra, Dapil 1 Kalbar, saat ditemui wartawan Metro7, Sabtu (9/9).

Menurutnya, hal ini wajar karena masyarakat kita dideterminasi budaya patriarkis. Sehingga peran kaum perempuan yang luar biasa kadang tidak terekspos publik, termasuk partisipasinya dalam politik.

“Berbagai persoalan politik perempuan sejatinya juga disebabkan oleh proses politik,” katanya.

Partai politik, pemerintah, lembaga perwakilan rakyat dan lembaga penyelenggara pemilu sangat didominasi oleh laki-laki. Sehingga nilai, kepentingan, aspirasi, serta prioritas mereka menentukan agenda politik terlalu mendominasi proses politik dan kebijakan publik yang dihasilkan.

Eni juga menjelaskan, padahal perempuan memiliki nilai, kepentingan kebutuhan dan aspirasi yang berbeda dengan laki-laki.

“Perbedaan ini sangat penting untuk dapat terwakili dalam lembaga politik, untuk memberikan perubahan terhadap proses politik ke arah yang lebih demokratis,” ucapnya.

Eni juga menambahkan, untuk perempuan jangan takut untuk berpolitik dan harus mampu bisa bersaing dengan para pria lainnya.

“Penting bagi seluruh perempuan di seluruh Indonesia khusunya di Kalimantan Barat kalau saja sesama perempuan kita saling mendukung, saling memotivasi, saling menginspirasi,” tegasnya.

Eni juga menyebutkan, peran perempuan dalam legislatif harus terlihat agar keterwakilan perempuan di parlemen terus meningkat. Tiga fungsi legislatif, katanya, harus dijalankan dengan baik untuk dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat akan perwakilan perempuan di legislatif.

Ia pun mengajak perempuan untuk tidak takut berperan dalam dunia politik. Menurutnya, peran perempuan di kancah politik sangat penting untuk dapat memperjuangkan hak perempuan itu sendiri dalam rangka pembangunan dan masa depan bangsa.

Untuk meningkatkan dan mendorong partisipasi perempuan dalam dunia rill politik, partai politik (parpol) memiliki andil dan peranan yang besar untuk Indonesia tercinta ini.

“Memang ada beberapa hal yang harus dikuatkan oleh perempuan itu sendiri. Pertama, perempuan memang harus percaya diri, kuatkan dulu keinginan dari diri perempuan itu sendiri bahwa saya ingin sukses, saya ingin maju, terpilih. Yakinkan itu terlebih dahulu. Kedua, harus ada restu dan dukungan keluarga,” ucapnya

Di lain sisi, kepemimpinan perempuan dalam posisi-posisi strategis di parlemen masih kurang. Peran partai politik untuk mendukung hal ini dibutuhkan, dengan membuka peluang yang sama bagi perempuan dan laki-laki.

“Justru itu perempuan harus dibekali dengan ilmu pengetahuan, aktivis perempuan harus terus berjuang memberikan tambahan peningkatan skill dan diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan yang meningkatkan pengetahuan,” bebernya.

Ia juga berharap untuk kedepan di Pileg 2024 dapat terpenuhi keterwakilan perempuan bisa bertambah di lembaga DPR RI nantinya.

“Sangat pentingnya peran perempuan terjun ke dunia politik untuk berpartisipasi membangun Indonesia yang maju dan sejahtera,” tutupnya.